Omzet Anto Widi rata-rata Rp20-juta per bulan dari hasil perniagaan daun yakon.

Kemasan modern daun yakon dalam bentuk kapsul.

Kemasan modern daun yakon dalam bentuk kapsul.

Anto Widi memperoleh omzet sebanyak itu dari hasil penjualan rata-rata 80 kg daun yakon cacah kering per bulan. Satu kilogram daun kering berasal dari 10 kg segar. Ia memetik daun anggota famili Asteraceae itu rutin setiap bulan. Pemuda 31 tahun itu menjual daun Smallanthus sonchifollius ke perusahaan produsen herbal di Yogyakarta dengan harga Rp250.000 per kilogram.

Pekebun itu lalu mengembangkan tanaman anggota famili Asteraceae itu pada 2012. Ia menanam bibit yakon dari rekannya itu di kebun miliknya di Desa Kaliurip, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah, yang berketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut (dpl). “Yakon di Indonesia tumbuh dengan baik pada ketinggian lebih dari 1.000 m dpl sehingga cocok ditanam di Desa Kaliurip,” kata Anto.

Budidaya mudah
Menurut Anto untuk membudidayakan yakon relatif mudah jika iklimnya mendukung. Langkah pertama, ayah dua orang anak itu menyemai anakan. “Sambil menunggu persemaian kita bisa mempersiapkan tanah dengan membuat bedengan hingga setinggi 30—40 cm agar umbi tumbuh leluasa,” tuturnya. Anto menuturkan waktu tanam yakon sebaiknya ketika awal musim hujan pada September agar kebutuhan air relatif terpenuhi untuk pertumbuhannya.

Ciri khas tanaman yakon, pucuk berwarna gelap

Ciri khas tanaman yakon, pucuk berwarna gelap

Yakon siap dipanen daunnya saat umur tanaman 2,5 bulan setelah tanam. Anto memetik 6 daun per tanaman pada panen perdana. Panen berikutnya produksi lebih besar, yakni rata-rata 8 daun per tanaman. Sekilogram terdiri atas 40 daun. Menurut Anto yakon dapat hidup hingga umur 7—8 bulan.

Setelah itu tanaman akan berbunga, berbuah, kemudian mati dengan menghasilkan 7—8 anakan yang dapat menjadi sumber bibit. “Tanaman yang sudah berbunga jumlah produksi daunnya tidak optimal,” kata pria asal Parangtritis, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, itu. Hingga 2013 Anto belum menjual daun yakon karena lebih fokus untuk perbanyakan. Pada 2014 barulah Anto menanam yakon di lahan satu hektare. Total populasi 5.000 tanaman.

Baca juga:  Kisah Sukses Bisnis Jamur Tiram

“Semula saya menanam dengan jarak tanam 30 cm x 30 cm, tapi hasilnya kurang bagus. Produksi daun tidak maksimal,” kata alumnus Sekolah Menengah Atas (SMA) Berbudi Bawaleksana di Yogyakarta itu. Oleh karena itu Anto memperlebar jarak tanam menjadi 50 cm x 50 cm. Dengan jarak tanam itu pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Anto memanen daun yakon dengan memetiknya hingga menyisakan 2—3 helai daun dari pucuk.

Umbi

Pengeringan daun yakon dengan oven pada suhu 70°C selama 8 jam.

Pengeringan daun yakon dengan oven pada suhu 70°C selama 8 jam.

Anto memanen daun secara bergiliran dengan selang waktu 25—30 hari. Anto mencacah daun yakon hasil panen hingga berukuran rata-rata 2—3 cm. Ia lalu menjemur cacahan daun yakon selama 24 jam. “Jika menggunakan oven perlu waktu selama 8 jam dengan suhu 70°C,” kata pria yang mengagumi dunia pewayangan itu. Dari 100 kg daun basah Anto memperoleh 10 kg cacahan daun kering.

Selanjutnya ia mengemas cacahan daun yakon kering ke dalam kantong plastik berisi 20 kg, lalu mengirimnya ke produsen herbal. Anto menjual cacahan daun kering yakon dengan harga Rp250.000 per kilogram. Hingga kini Anto belum menjual secara luas buah dan umbi yakon. “Jika ada permintaan akan kami layani. Namun, jika skala industri kami belum bisa memenhi permintaan,” katanya.

Umbi yakon sebenarnya sangat berkhasiat. Salah satu pasien yang pernah membuktikan khasiat umbi tanaman yang juga dikenal dengan sebutan bengkuang jepang itu adalah Maria Margaretha Andjarwati (baca Trubus edisi Mei 2015). Perempuan asal Kelapagading, Jakarta Utara, yang terdiagnosis menderita penyakit jantung selama 10 tahun itu kondisi kesehatannya membaik setelah mengonsumsi 2 umbi yakon yang masing-masing berbobot rata-rata 200 gram.

Lahan Anto Widi seluas 1,2 hektare di Desa Kaliurip, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah.

Lahan Anto Widi seluas 1,2 hektare di Desa Kaliurip, Kabupaten Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah.

Anto menuturkan saat ini baru 2 negara yang memproduksi umbi yakon secara massal, yakni Peru dan Tiongkok. “Harga umbi kering mencapai Rp4,5-juta per kg,” kata Anto. Harga umbi kering mahal karena rendemen hasil pengeringan sangat rendah. Dari 20 kg umbi segar hanya menghasilkan 400 gram umbi yakon kering atau hanya 2%. “Jika umbi tidak dikeringkan tidak akan awet. Hanya dalam 4—7 hari umbi yakon sudah tidak layak konsumsi,” katanya.

Baca juga:  Kokedama Tumbuh di Bola Lumut

Menurut ayah dua orang anak itu, petani yang membudidayakan yakon di tanahair secara serius masih jarang. “Sempat ada permintaan benih dari beberapa daerah. Namun, pertumbuhannya tidak optimal karena mereka menanam di daerah berkelembapan rendah dan bersuhu tinggi, seperti Semarang dan Surabaya,” katanya. Sementara yakon menghendaki suhu rendah dan berkelembapan tinggi.

Salah tanaman

Anto Widi

Anto Widi

“Alhamdulillah, dengan mengembangkan yakon bisa memanfaatkan potensi daerah sehingga tidak hanya sayuran yang berkembang, tapi juga komoditas lain yang bernilai ekonomi lebih tinggi,” kata Anto. Potensi itu kian besar, jika umbi yakon juga mampu dipasarkan.

“Ketika pertama kali menanam yakon saya belum tahu ke mana menjualnya,” kata petani kelahiran 8 September 1985 itu. Apalagi sebelumnya Anto sempat keliru menanam tanaman berjuluk daun insulin itu. Yakon mendapat julukan itu lantaran khasiatnya yang dapat membantu menurunkan kadar gula darah seperti peran insulin. Ketika itu ia malah menanam paitan atau kipait Tithonia diversifolia.

Anto menganggap kipait adalah yakon karena bentuk daunnya yang mirip. “Dengan bangganya saya mengatakan paitan adalah yakon ke teman saya yang bekerja di perkebunan wasabi di Jepang,” kata pria 31 tahun itu. Ternyata pendapatnya keliru. Rekan Anto memberitahu ciri-ciri tanama yakon yang sebenarnya, salah satunya berumbi. Rekannya itu lalu memberikan 4 bibit anakan yakon kepada Anto. Dari bibit itulah Anto menanam yakon hingga berkembang menjadi 1 hektare. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d