Anthurium ciganjur 10, ciganjur 11, dan ciganjur 12 koleksi Ir. Dwi Bintarto.

Anthurium ciganjur 10, ciganjur 11, dan ciganjur 12 koleksi Ir. Dwi Bintarto.

Anthurium-anthurium variegata teranyar. Sebagian hasil persilangan.

Anthurium jenmanii variegata bernama cassanova terlihat istimewa. Corak kuning mentega menyebar merata hampir di setiap daun. Keistimewaan lain, cassanova berdaun tebal, bersosok bongsor, dan tinggi sehingga terlihat gagah. Pantas bila kolektor anthurium di Kecamatan Ciganjur, Jakarta Selatan, koleksi Ir. Dwi Bintarto, rela merogoh kocek hingga Rp4-juta untuk menebus casanova.

Bintarto membeli cassanova dari sebuah nurseri di Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat. Menurut Bintarto cassanova merupakan hasil split atau pemisahan anakan dari Anthurium jenmanii variegata jenis eka (escobar) bernama bromo. Tanaman hasil pemisahan itu semula berdaun hijau. Namun, di tangan Bintarto cassanova yang kini berumutr 7 bulan itu bermutasi menjadi variegata.

Asli Ciganjur
Bintarto menuturkan, “Mutasi cassanova belum stabil. Bentuk dan warna daun masih bisa berubah.” Mutasi mulai stabil jika tanaman berukuran prospek (panjang daun 12,1—22 cm) hingga madya (22,1—32 cm). Hasil pemisahan dari indukan eka juga melahirkan anthurium variegata bernama ronggeng. Ronggeng tak kalah istimewa karena bercorak variegata putih dengan sosok terlihat kokoh dan kompak.

Anthurium variegata hasil pemisahan anakan.

Anthurium variegata hasil pemisahan anakan.

Anthurium mutasi itu berdaun lanset dan tebal. Namun, pertumbuhan ronggeng cenderung lambat. Meski sudah berumur 1,5 tahun, ronggeng masih bisa berubah bentuk dan warna. “Warna variegata putih juga lebih rentan terhadap serangan cendawan,” ujar alumnus Jurusan Arsitektur Lanskap, Institut Pertanian Bogor (IPB) itu. Selain cassanova dan ronggeng, Bintarto juga mengoleksi ciganjur 10 dan ciganjur 11.

Baca juga:  6 Cara Budidaya Pohon Anting Putri dengan Mudah

Kedua anthurium itu hasil perkawinan silang antara anthurium hibrida koleksi Bintarto dengan anthurium koleksi Eddy Pranoto, kolektor di Kota Salatiga, Provinsi Jawa Tengah. “Salah satu indukan ciganjur ialah eka koneng,” kata Eddy. Bintarto lalu menyemai biji hasil persilangan itu di kediamannya. Dari ratusan biji yang tumbuh menjadi bibit, ia menyeleksi.

Hasil seleksi terpilih dua varian anthurium variegata bercorak kuning yang tergolong istimewa. Ia lalu menamainya dengan ciganjur 10 dan ciganjur 11. Bintarto memberi nama ciganjur karena kedua anthurium itu ditanam dan tumbuh di kediamannya di Ciganjur. Sosok ciganjur 10 dan ciganjur 11 hampir serupa. Namun, ciganjur 10 bersosok lebih bongsor meski umur tanaman baru 6 bulan, lebih muda 2 bulan daripada ciganjur 11.

Tumbuh kompak

Pehobi tetap menggemari anthurium.

Pehobi tetap menggemari anthurium.

Baik ciganjur 10 maupun ciganjur 11 sama-sama mempunyai 12 daun yang ujungnya meruncing dan lekuk daun mengarah ke bagian dalam sehingga saling menutupi satu sama lain. Karena itu keduanya tumbuh kompak dan rapat sehingga terlihat kokoh. Ciri khas tanaman asal biji yaitu adanya daun kecil yang tumbuh di pangkal batang. Bintarto juga mengoleksi anthurium variegata ciganjur 12.

Tanaman anggota famili Arecaeae itu adalah hasil pemisahan dari induk ciganjur. Ciri khas ciganjur 12 mempunyai daun bertepi rata. Bentuk daun seperti mangkuk, permukaan daun licin, mengilap, dan tulang daun lebih menonjol. Meski sudah berumur setahun, sosok ciganjur 12 tampak lebih mungil. Hingga kini Bintarto belum menjual anthurium ciganjur 10, ciganjur 11, dan ciganjur 12 di pasaran sehingga belum bisa menentukan harga pasti. Namun, ia memperkirakan harga jual varian ciganjur sekitar Rp1,5-juta–Rp2-juta. (Marietta Ramadhani)

Baca juga:  Keladi Kekar dan Kompak

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d