Anggrek Hantu Penebar Bau 1
Anggrek Gastrodia bambu bersosok sangat mungil.

Anggrek Gastrodia bambu bersosok sangat mungil.

Anggrek baru berukuran mungil yang hidup di tempat gelap, sunyi, dan lembap.

Julukan untuk tanaman itu menyeramkan: anggrek hantu. Itu karena anggrek jarang terlihat akibat postur tubuhnya sangat mini tak sampai satu ruas kuku orang dewasa. Sudah kecil, penampilan anggrek itu menyaru dengan seresah daun bambu. Warna cokelat mendominasi nyaris seluruh bagian bunga, kecuali bagian bibir yang bercorak jingga dan berbentuk mata tombak. Pantas ia bagai hantu yang tidak mudah terlihat oleh kebanyakan orang.

Kuntum bunga G. bambu membulat mirip lonceng.

Kuntum bunga G. bambu membulat mirip lonceng.

Sejatinya anggrek hantu meninggalkan “jejak” kehadirannya berupa aroma tak sedap mirip ikan busuk. Alih-alih kupu-kupu beterbangan di sekitar bunga, tetapi justru lalat yang singgah. Nasib anggrek hantu Gastrodium bambu tak seberuntung anggrek lain yang memiliki daun.

Anggrek mini itu tidak memiliki daun sehingga tidak mampu membuat makanan sendiri, tetapi tidak bersifat parasit. Itulah sebabnya anggrek hantu termasuk dalam kelompok anggrek holomikotropik alias anggrek tanpa klorofil. Nama bambu disematkan lantaran habitat aslinya di sekitar rumpun bambu. Ciri bunganya berbentuk lonceng dengan ukuran panjang dan lebar masing-masing 1,7—2 cm dan 1,4—1,6 cm.

Endemik

Pada satu perbungaan anggrek bambu terdapat 8 kuntum yang mekar bergantian. Kelompok anggrek holomikotropik seringkali disebut anggrek hantu karena kemunculannya yang tiba-tiba dan tanpa daun. Anggrek berpenampilan eksotis itu bertahan hidup dengan menggantungkan pasokan nutrisi organik melalui simbiosis dengan cendawan mikoriza tertentu. Populasi G. bambu sangat terbatas di alam.

Ahli anggrek dari Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Destario Metusala, M.Sc. menuturkan G. bambu tumbuh endemik di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat dan Yogyakarta. Kemunculannya sangat singkat hanya satu periode pendek dalam setahun. Bunga mekar selama 2 pekan dari permukaan tanah. “Usai mekar bunga perlahan layu, busuk, dan lenyap,” ujar Destario.

Kuntum G. crispa berbentuk memanjang.

Kuntum G. crispa berbentuk memanjang.

Perbungaan menyeruak dari permukaan tanah berseresah di bawah rumpun-rumpun bambu tua di ketinggian tempat 800—900 meter di atas permukaan laut (m dpl). Sayangnya, informasi mengenai rekam jejak G. bambu sangat sedikit. Literatur maupun jurnal ilmiah yang membahas eksistensi sang anggrek hantu itu pun begitu minim. Pasalnya, anggrek genus gastrodia sangat sulit dijumpai.

Baca juga:  Rindu Senja Memerah di Talaud

Sebagian besar daur hidupnya berada di bawah permukaan tanah dan hanya keluar saat berbunga. Masa mekar bunga pun hanya berdurasi 1—2 pekan dalam setahun. “Jangankan untuk meneliti, dapat berjumpa secara kebetulan di alam saja sebuah keberuntungan besar,” kata Destario. Mencari individu berbunga di alam juga bukan perkara gampang. Lokasi tumbuh G. bambu sangat sepi dan jauh dari pemukiman.

Habitatnya persis di bawah rumpun bambu tua nan lebat dengan kondisi gelap dan lembap. Untuk menemukan anggrek mini itu butuh cara khusus. “Peneliti harus merayap dan merundukkan kepala mendekati permukaan tanah sebab sosok G. bambu sangat kecil,” kata Destario. Dengan menempelkan kepala sedekat mungkin dengan tanah maka G. bambu lebih mudah terlihat. Kejelian mata pun diperlukan sebab G. bambu nyaris menyerupai seresah daun maupun potongan ranting.

Belum lagi posisi anggrek bukan di satu tempat, melainkan terpencar satu sama lain. Langkah budidaya gastrodia di luar habitatnya pun tidak memungkinkan. Sebab mereka hanya bisa hidup jika syarat lingkungan tumbuhnya terpenuhi. Intensitas cahaya matahari yang terlalu tinggi menyebabkan gastroda kering. Mereka hanya bisa hidup dengan sinar matahari sangat sedikit, sekitar 20%. Anggrek langka itu juga menggemari ruang tumbuh tanpa embusan angin dan kelembapan 80—90%.

Begitu pula dengan keberadaan mikoriza tertentu yang menjadi teman bagi sang anggrek untuk memasok makanan. Kehilangan satu syarat tumbuh saja bisa memicu kematian. Belakangan populasi G. bambu terancam punah. Gangguan pada habitat anggrek itu kian tinggi. Penebangan rumpun bambu yang menjadi tempat tumbuh utama sang anggrek semakin banyak dilakukan.

Spesies baru

Sejatinya kelompok anggrek holomikotropik di Indonesia bukan hanya gastrodia, tetapi adapula epipogium, didymoplexis, stereosandra, dan aphyllorchis. “Kelompok anggrek itu kerap luput dari perhatian para botanis maupun kolektor,” kata Destario. Gastrodia memiliki warna bunga tidak mencolok seperti putih, kekuningan, hingga kecokelatan. Pada 2016 para pegiat alam dan kelompok mahasiswa merekam keberadaan anggrek G. bambu di kaki Gunung Merapi melalui sejumlah survei lapangan. Namun, mereka mengidentifikasi anggrek itu sebagai G. crispa.

Rumpun bambu yang lebat dan gelap sangat digemari    G. bambu.

Rumpun bambu yang lebat dan gelap sangat digemari G. bambu.

Anggrek G. crispa merupakan genus gastrodia yang lebih dahulu dideskripsikan oleh peneliti Belanda pada zaman kolonial. Sekilas crispa mirip G. bambu, sama-sama berwarna cokelat dan kecil. Namun, kuntum bunga crispa lebih panjang dan pipih, sedangkan bambu membulat mirip lonceng. Pembeda lainnya yaitu labellum bambu berbentuk mata tombak, sedangkan crispa berbentuk segitiga lancip. Oleh karena itu, Destario memastikan G. bambu yang tumbuh di kaki Gunung Merapi itu sebagai anggrek spesies baru.

Baca juga:  Jagung Multimanfaat

Yang menarik, populasi G. bambu juga dijumpai di Gunung Gede-Pangrango. Destario mengatakan Indonesia memiliki 9 spesies anggrek gastrodia yang sebagian besar tersebar di Pulau Jawa. Bukan berarti di daerah lain tidak memiliki keragaman gastrodia. “Eksplorasi yang dirancang khusus untuk menguak kehidupan anggrek genus gastrodia belum begitu gencar,” ujarnya. Padahal, penelitian mengenai anggrek holomikotropik, khususnya genus gastrodia, sangat dibutuhkan karena habitatnya terancam musnah. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *