Best of Species Bulphophyllum phalaenopsis, koleksi Lulus Sunaryo dari Malang, Jawa Timur.

Best of Species Bulphophyllum phalaenopsis, koleksi Lulus Sunaryo dari Malang, Jawa Timur.

Bulbophyllum phalaenopsis meraih the best in show mengalahkan 105 anggrek lain.

Masyarakat menjuluki Bulbophyllum phalaenopsis sebagai anggrek dasi. Itu karena daun memanjang hingga lebih dari 1 meter. Lebar daun 20 cm. Daun-daun raksasa anggrek itu muncul dari umbi semu sebesar bola tenis. Dari sela-sela umbi, muncul tandan bunga berbentuk lembaran berbulu dan berwarna merah marun menambah keunikannya. Selain unik, penampilan anggrek itu juga prima berdaun mulus, bebas serangan hama dan penyakit.

Kondisinya yang prima membuat ke-5 juri, yakni Dedek Setia Santoso, Novianto, Sugeng Praptomo, Yaim, dan Imron Supeno sepakat menetapkan anggrek itu sebagai Best in Show. Dewan juri menetapkan Bulbophyllum phalaenopsis koleksi Lulus Sunaryo sebagai anggrek terbaik di kontes bertajuk Shining Orchid Week 2007 pada 7—13 Agustus 2017. Kontes berlangsung di Gedung Pancasila, Balaikota Among Tani, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur.

Kriteria lomba
Dewan juri menilai 108 peserta dari berbagai daerah, termasuk peserta dari Kalimantan dan Malaysia. Mereka berlomba dalam 6 kategori, yaitu spesies, phalaenopsis, dendrobium, cattleya, vanda, hibrida lain, dan spesies lain. “Setelah dinilai satu per satu, tidak semua kategori ada juaranya, sebab tak memenuhi syarat,” kata Novianto juri sekaligus Ketua Perhimpungan Anggrek Indonesia (PAI) Malang Raya itu.

1st Best Section Phalaenopsis sanderianum koleksi Dede Orchid.

1st Best Section Phalaenopsis sanderianum koleksi Dede Orchid.

Kriteria penilaian secara umum terkait dengan kondisi tanaman, jumlah bunga, tata letak bunga, dan pada kelangkaan tanaman. “Ada phalaenopsis hibrida yang bunganya lebih banyak tetapi kalah oleh yang bunganya sedikit, karena tata letaknya tidak rapi,” kata Dedek Setia Santosa. Bulbophyllum phalaenopsis atau terkenal dengan sebutan anggrek dasi itu berhabitat asli di Papua Nugini hingga Papua berketinggian di bawah 500 meter di atas permukaan laut.

Baca juga:  Omzet Besar Bisnis Herbal

Meski tumbuh di luar habitat, Lulus Sunaryo berhasil merawat anggreknya sehingga tumbuh dengan baik dan mampu berbunga. “Sebenarnya saya tidak melakukan perawatan khusus,” kata pehobi anggrek di Malang, Jawa Timur, itu, Ia mulai merawat anggreknya pada 2010. Saat itu daunnya baru sepanjang 40 cm. Anggrek itu cocok dengan lingkungan barunya sehingga rajin berbunga.

Ketika mengikuti lomba, anggrek itu berbunga untuk kali ke-7. Panjang daun lebih dari 3 kali lipat. Untuk perawatan, “Saya hanya siram setiap hari,” kata Lulus Sunaryo. Penyiraman dengan menyempotkan air ke seluruh bagian tanaman. Bila ada tunas, ia tambahkan air dengan pupuk NPK 15:15:15. Konsentrasi 1 gram dalam dengan 2 liter air. Tanaman sehat dan hama penyakit pun tak menyerang.

Silangan seksi
Gelar bergengsi lainnya Best of Species diraih Paphiopedilum sanderianum milik Dedek. Paphiopedilum sanderianum itu tampil mengejutkan dengan 4 kuntum bunga yang mekar sempurna. Penampilan itu jarang terlihat, apalagi anggrek asal Serawak, Malaysia, itu pernah dinyatakan nyaris punah pada abad ke-19 sehingga menjadi incaran para pemburu anggrek.

Best of Hiybrid Dendrobium pololo Sunshine milik  Mujiyani dari Malang.

Best of Hiybrid Dendrobium pololo Sunshine milik Mujiyani dari Malang.

“Saya juga tidak menyangka kalau paphio itu P. sanderianum,” kata pemilik Dede Orchid itu. Pada 2013 Dedek membeli seedling dari berbagai tempat, termasuk Paphiopedilum. Ia membiarkannya tumbuh tanpa perlakuan khusus. Dede memeliharanya di nurserinya yang berketinggian lebih 700 meter di atas permukaan laut. Beberapa hari sebelum pelaksanaan lomba, muncullah bunga.

3rd cattleya Sombol  Emma Solosa, Dede Orchid Batu.

3rd cattleya Sombol Emma Solosa, Dede Orchid Batu.

Ketika itulah ia baru mengetahui spesies anggrek itu sanderianum. Sebuah kejutan yang menggembirakan. “Kelangkaannya mengalahkan peserta lain di kelasnya,” kata Dedek. Paphiopedilum sanderianum diidentifikasi pada 1886 dengan menyematkan nama Henry Frederick Conrad Sander, raja bisnis sekaligus pemburu anggrek era Ratu Vitoria. Kini sanderianum bisa dibudidayakan di nurseri bahkan disilangkan. Namun, spesies itu tetap favorit di kelasnya.

1st Dendro Hybrid Den Milo, Malaysia.

1st Dendro Hybrid Den Milo, Malaysia.

3rd Vanda Vanda lamelata, Malaysia.

3rd Vanda Vanda lamelata, Malaysia.

Di kelas hibrida, silangan dendrobium spatulata (keriting) cukup menarik perhatian pencinta anggrek. Lebih dari 10 tahun silam, para penganggrek menyilangkannya. Bahkan, almarhum Wirakusuma dari Malang mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki kelebihan pada silangan anggrek seksi itu. Kini terbukti, silangan yang ikut dilombakan merupakan silangan-silangan unik yang berpotensi untuk meraih pasar, termasuk pasar dunia.

Baca juga:  Anggrek Tentara Eksotis

Di kelas hibrida, peraih Best of Hybrid adalah Dendrobium palolo sunshine milik Mujiyani, dari Malang. Ada 6 spike yang berbunga sempurna pada saat penjurian, sementara pesaingnya tak sebanyak itu. Palolo sunshine terkenal di kelas Dendrobium hibrida dengan tipe bunga Phalaenopsis yang showy. Mujiyani memperoleh anggreknya dari dalam negeri. Beberapa seedling silangan lokal dari Batu.

Perawatan dendrobium relatif mudah, apalagi di daerah sejuk seperti Malang. Penyiraman setiap hari dan pemupukan dua kali sepekan. Selain tipe Phalaenopsis, silangan D. black spider x D. lasianthera miliknya juga meraih juara. Hanya kondisi tanaman tak semegah D. palolo sunshine. Jumlah bunga dan tata letaknya masih kalah meski banyak silangan jenis keriting tampil prima. (Titik Kartitiani, anggota Perhimpunan Anggrek Indonesia)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d