Kandungan kurkumin terlihat dari warna jingga pada rimpang temulawak.

Kandungan kurkumin terlihat dari warna jingga pada rimpang temulawak.

Temulawak terbaru adaptif, produktif, dan tinggi kandungan zat aktif.

Euis Kusmiati dan anggota Kelompok Tani Kemuning yang dipimpinnya hanya menggerutu ketika mendapatkan bantuan bibit dari Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Bukan bibit tanaman buah atau hortikultura yang mereka peroleh, melainkan bibit temulawak. Mereka belum pernah menanam komoditas itu sama sekali. Sudah begitu, beberapa teman menertawakan Euis yang menanam temulawak.

Mereka menganggap temulawak komoditas asing dan pasar terbatas. Untungnya kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Sukabumi membesarkan hati Euis, bahkan menjalin kerja sama dengan sebuah industri farmasi untuk menampung temulawak produksi Kelompok Tani Kemuning. Secara mengejutkan, tahun pertama penanaman temulawak seluas 1 ha itu sukses.

Dr Ir Nurliani Bermawie, meneliti temulawak sejak 2005.

Dr Ir Nurliani Bermawie, meneliti temulawak sejak 2005.

Hasil seleksi
Pada tahun berikutnya Dinas Pertanian menambah bantuan bibit untuk memperluas penanaman menjadi 2 ha. Kini pada tahun ketiga penanaman, Kelompok Tani Kemuning mengelola 3 ha lahan temulawak yang ditumpangsarikan dengan palawija. Penanaman pun meluas ke petani di luar kelompok tani sehingga total lahan budidaya temulawak mencapai 20 ha. Setiap panen mereka menghasilkan 15 ton rimpang temulawak segar per ha.

Temulawak yang dibudidayakan Euis merupakan jenis teranyar hasil pemuliaan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro). Nama varietas baru itu cursina, hasil seleksi varietas yang dikumpulkan dari seluruh Indonesia. Peneliti temulawak Balittro, Dr Ir Nurliani Bermawie menyatakan, seleksi berdasarkan bentuk rimpang, produktivitas, dan kandungan zat aktif.

Setelah seleksi, ia melakukan pengujian multilokasi di tiga tempat yaitu Bogor dan Sumedang, keduanya di Provinsi Jawa Barat serta Boyolali (Jawa Tengah). Seleksi dan pengujian itu menghasilkan tiga varietas paling unggul
yang berasal dari Sumedang, Sumatera Selatan, dan Majalengka. Secara umum, tampilan ketiganya hampir sama. Batang semu hijau tua, bentuk daun jorong agak lonjong atau oblong eliptik, dan berujung lancip.

Baca juga:  Eceng Gondok untuk Selada

Ciri lain warna daun bagian atas hijau sedangkan bagian daun bawah hijau muda. Pangkal tulang daun putih kekuningan. Jumlah daun per tanaman 8—11 helai. Seperti temulawak pada umumnya, ketiga varietas unggul itu mempunyai tipe bunga simosa—bunga majemuk yang ujung ibu tangkainya tertutup suatu bunga—dengan kelopak hijau muda dan mahkota bunga merah lembayung. Benang sari kuning muda dengan kepala putik putih kekuningan.

Setiap tanaman mempunyai 10—24 kuntum bunga per tandan dan berbunga 60—65 hari setelah tanam. Cursina 1 yang berasal dari Sumedang mempunyai kandungan minyak asiri, xantorizol, dan kurkuminoid relatif sama dengan temulawak lokal. Meski demikian, produktivitasnya spektakuler dengan potensi 33,1 ton per ha dan rata-rata 25,6 ton per ha (lihat Tiga Temulawak Top).

Cursina 1 adaptif di ketinggian 200—800 m di atas permukaan laut (dpl). “Varietas itu cocok untuk bahan baku industri minuman,” kata Nurliani. Adapun cursina 2 yang berasal dari Sumatera Selatan lebih cocok untuk bahan
baku industri farmasi karena tinggi kandungan minyak asiri, xantorizol, dan kurkuminoid. Varietas terakhir, cursina 3, tinggi minyak xantorizol yang tinggi yaitu 0,97% sehingga cocok untuk industri ekstrak bahan alam.

Sari temulawak meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh.

Sari temulawak meningkatkan nafsu makan dan daya tahan tubuh.

Panen 9 bulan
Keunggulan masing-masing itu yang menjadi modal pendaftaran jenis unggul. Menurut Nurliani salah satu syarat pendaftaran jenis unggul adalah ciri khusus untuk membedakan dengan varietas lain. Setelah pengujian selama dua
tahun pada 2005—2007, Kementerian Pertanian akhirnya melepas cursina 1, cursina 2, dan cursina 3 sebagai varietas temulawak unggul pada 2010.

Menurut Junius Rahardjo, direktur operasional Javaplant, produsen ekstrak bahan alam di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah, kandungan temulawak yang paling diinginkan industri farmasi adalah kurkumin dan
xantorizol. Javaplant memproduksi 3 jenis ekstrak temulawak terstandar.

Baca juga:  Khasiat Terbaru Herbal Andalan

Produk pertama memiliki kadar kurkumin 30% dalam bentuk bubuk yang digunakan untuk suplemen kesehatan, obat tradisional, tablet dan kaplet. Produk kedua memiliki kadar xantorizol terstandar 50%, berbentuk bubuk, dan
biasa digunakan untuk produk kapsul jel atau kapsul lunak. Produk terakhir, xantorizol 2% berbentuk bubuk untuk suplemen kesehatan bagi ternak. Kurkumin berkhasiat sebagai pelindung hati, sedangkan xantorizol bersifat antiperadangan. “Pada dosis tertentu, ekstrak temulawak ditambahkan dalam produk kecantikan sebagai antikanker kulit dan antikeriput,” kata Junius.

Bila dikonsumsi secara oral, ekstrak temulawak berkhasiat sebagai antibakteri, penambah nafsu makan, dan peningkat daya tahan tubuh. Temulawak merupakan tanaman tahunan. “Umur panen optimal pada bulan ke-9 pascatanam karena pada umur itu kandungan zat aktif maksimal,” kata Nurliani. Ia merekomendasikan pemanenan pada akhir musim kemarau untuk memperoleh kandungan zat aktif tertinggi.

Biasanya pekebun menanam bibit pada awal musim hujan dan panen pada Juli. Tanda rimpang matang secara fisiologis adalah daunnya menguning. Jarak tanam yang baik adalah 60 cm x 60 cm. Lubang tanam berukuran 30 cm x 30 cm dan diberi pupuk kandang 0,5—1 kg per lubang sepekan sebelum tanam. Pemupukan selanjutnya pada 3—4 bulan setelah tanam. Pemberian pupuk bisa menggunakan pupuk organik, dapat pula menggunakan Urea, KCl, atau SP-36.

Doktor alumnus Universitas Reading, Inggris, itu juga mensyaratkan naungan 25—30% bagi temulawak. Kini Euis tersenyum lebar. Selain hasil yang dipasok ke industri farmasi, dia juga mengolah sendiri hasil panennya menjadi bubuk temulawak dalam botol berkapasitas 20 gram dan dibanderol Rp25.000 per botol. Bupati Sukabumi yang pernah merasakan khasiat temulawak instan ikut memopulerkan produk Euis dan mendorong pemasaran lebih luas. (Muhammad Awaluddin)

COVER 1.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d