Pengusaha kafe herbal mempertahankan cara membuat jamu dan mengemas lebih modern.

Pengusaha kafe herbal mempertahankan cara membuat jamu dan mengemas lebih modern.

Di perkotaan kini muncul kafe yang menyajikan minuman herbal lezat dan pas untuk anak muda.

Muda, energetik, tampil modis, gila kerja. Itulah gambaran perempuan masa kini di perkotaan. Satu lagi: mereka ternyata minum herbal. Rendy Basuki menyebut mereka Miss B (dibaca: Miss Bi). Ia membuka kafe khusus herbal untuk anak muda pada 2011. Poster-poster Miss Bi menghiasi dinding kafe itu. Sejatinya karakter Miss B adaptasi dari tokoh serupa di novel Miss B: Panggil Aku Bi, karya Fira Basuki, kakak perempuan Rendy Basuki.

Ia memilih nama itu untuk mewakili karakter masyarakat metropolis yang modern dan cerdas. Kafe herbal di Lebakbulus, Jakarta Selatan, itu kini ramai pengunjung kalangan muda. Mereka menikmati herbal di kafe atau membeli untuk buah tangan. “Masyarakat menaruh perhatian lagi pada jamu, apalagi sejak maraknya kampanye untuk kembali mengonsumsi produk herbal sebagai alternatif pencegahan berbagai penyakit,” ujar ayah seorang putra itu.

Usaha menjanjikan
Rendy menuturkan, konsumen Miss B cukup beragam, terutama kalangan muda. Ia juga melayani pembelian minuman herbal melalui

Rendy Basuki membuka kafe jamu lantaran menjanjikan dari sisi ekonomi dan melestarikan budaya asli Indonesia.

Rendy Basuki membuka kafe jamu lantaran menjanjikan dari sisi ekonomi dan melestarikan budaya asli Indonesia.

daring atau online. Itu terbukti dengan meningkatnya volume dan frekuensi pemasakan jamu. “Saat ini dalam seminggu memasak jamu hingga 2 kali. Sekali masak jamu untuk kapasitas 30 botol. Padahal, dahulu dalam sebulan pernah hanya 2 kali memasak jamu,” ujar Rendy yang menggunakan resep herbal dari keraton.

Menurut Rendy sekali memasak hanya untuk satu jenis jamu. Padahal, Rendy memasak 5 jenis jamu. Harga jual per botol bervolume 300 ml hanya Rp30.000. Namun, jika konsumen mengonsumsi langsung di kafe cukup membayar setengahnya lantaran memakai cangkir volume 200 ml. Rendy menuturkan omzet penjualan minuman herbal Rp15 juta per bulan. Itulah sebabnya mengelola kafe layak sebagai usaha sampingan bahkan mata pencaharian utama.

Baca juga:  Siasat Silangkan Jarak

Sebab, pamor jamu sudah jauh lebih baik daripada tahun-tahun lalu. “Makin tumbuhnya kesadaran hidup sehat dengan kembali ke produk-produk alami sangat membantu terangkatnya jamu sebagai minuman sehat bahkan obat berbagai penyakit,” kata Rendy. Padahal ketika memulai bisnis itu pada 2011, ia menghadapi banyak kendala seperti pandangan masyarakat bahwa jamu adalah minuman kalangan bawah.

Kafe Jamu Miss B dengan penataan yang modern sehingga minum jamu menjadi lebih berkelas.

Kafe Jamu Miss B dengan penataan yang modern sehingga minum jamu menjadi lebih berkelas.

Itu sangat bertentangan dengan segmen pasar yang disasarnya. “Saya berasumsi sebenarnya jamu dapat diterima oleh semua kalangan dengan perbaikan pengemasan dan cara penyampaian informasinya,” ujar alumnus Pittsburgh University, Pennsylvania, Amerika Serikat, itu. Itulah sebabnya hingga tahun 2013, Miss B selalu mengikuti pameran produk makanan dan minuman di Jakarta.

Melayani pelanggan
Sejatinya kafe herbal bukan baru muncul belakangan. Di Jakarta ada kafe Jamu Bukti Mentjos yang eksis sejak 1950-an. “Kedai itu sudah ada sejak zaman kakek dan nenek saya, kemudian orang tua, dan sekarang saya yang meneruskannya,” kata Horatius Romuli. Masyarakat menyebut kafe herbal di Salemba Tengah, Jakarta Pusat, itu Mentjos. Horatius menyediakan 57 jenis jamu yang ramuannya warisan turun-temurun.

Beberapa resep herbal itu berkhasiat untuk mengatasi pegal, linu, dan menjaga kesehatan jantung. Kisaran harganya Rp17.000—Rp57.000 per gelas tergantung jenis racikannya. Horatius hanya menggunakan bahan dari rempah-rempah alami Indonesia. “Bahan baku masih berasal dari Surakarta, penjualnya pun langganan dari kakek saya dulu, jadi sama-sama turun-temurun juga,” kata Romuli.

Jamu Bukti Mentjos dari awal berdiri pada 1950 sudah menerapkan konsep kafe dalam pelayanan kepada pelanggannya.

Jamu Bukti Mentjos dari awal berdiri pada 1950 sudah menerapkan konsep kafe dalam pelayanan kepada pelanggannya.

Setiap kafe memiliki resep tersendiri. “Penjual jamu tidak dapat memaksa konsumen untuk menyukai produknya. Sebagai gambaran, pelanggan jamu Bukti Mentjos adalah masyarakat yang memang memilih untuk menjadi pelanggan karena cita rasa yang cocok atau merasakan kebugaran tubuhnya. Itu juga berlaku pada penjual jamu lainnya,” ujar Horatius. Mentjos bertahan hingga tiga generasi karena menjaga kualitas bahan baku, cara olah, dan peracikannya.

Baca juga:  Daun Moringa Mengatasi Kista Payudara

Bahan racikan jamu Bukti Mentjos mendapat sertifikasi dari Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) sehingga terjamin aman bagi kesehatan. Ketika melayani pengunjung, misalnya, petugas khusus akan menanyakan keluhan kesehatan sehingga dapat menyajikan herbal yang pas. Menurut Horatius pelayanan yang informatif amat penting. Sebagai pemilik kafe, ia berinteraksi dengan konsumen, memberikan konsultasi singkat, sampai meracik jamu untuk konsumen.

PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul menyambut baik antusiasme masyarakat mengonsumsi herbal. Perusahaan jamu asal Semarang, Jawa Tengah, itu mengelola kafe jamu di Kebonjeruk, Jakarta Barat. Selain itu Sido Muncul juga membuka kesempatan kepada masyarakat untuk membuka kafe herbal. Menurut Dewi Rifqina dari PT Sido Muncul, program usaha kafe jamu itu bertujuan membuka peluang usaha bagi masyarakat.

Selain itu mendorong minat berwirausaha bagi seluruh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Dewi mengatakan, konsep kafe jamu itu untuk memenuhi selera generasi muda yang lebih menyukai jamu dengan rasa enak dan cara penyajiannya yang praktis. ”Kemasannya dalam gelas plastik yang bisa dibawa ke mana-mana,” ujarnya. Kafe jamu sudah dimulai dari Jakarta dan sekitarnya, dan saat ini banyak menyusul di kota-kota lainnya hingga ke pedesaan.

Pihak Sido Muncul mengharapkan usaha kafe jamu itu menjadi alternatif mata pencaharian bagi masyarakat di sektor informal di Jakarta dan sekitarnya. “Nantinya jika kafe jamu dapat berkembang di seluruh Indonesia, dapat dipastikan akan memberikan peluang bagi jutaan orang sehingga tingkat kesejahteraan masyarakat makin meningkat,” kata Dewi. Peluang membuka kafe jamu terbuka bagi siapa pun yang berminat. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d