Anak muda perkotaan tengah gandrung memelihara tupai gula.

Kategori foto terindah, Mencium Rembulan, karya Galih Pratama.

Kategori foto terindah, Mencium Rembulan, karya Galih Pratama.

Troli itu penuh sesak belanjaan. Di belakangnya tubuh bergaun dengan tas punggung mendorong troli sambil berlenggak-lenggok bak model. Tubuh mungil itu tetap percaya diri di tengah jepretan lensa dan keramaian pengunjung pasar modern. Itu gaya Unyin saat ikut belanja setiap akhir pekan. Unyin itu tupai gula alias sugar glider klangenan Indrie Yaniz. Tupai gula itu mungil, jinak, dan lengket dengan pemiliknya sehingga menyenangkan dibawa bepergian.

Saat itulah Indrie kerap menyalurkan hobi memotret dan swafoto alias selfie bersama Petaurus breviceps kesayangannya. Kelak hobi itu membawa berkah karena jepretan Indrie dinobatkan sebagai pemenang lomba foto tupai gula terunik oleh Riza Marlon, fotografer satwa kelas dunia. “Senang banget. Hobi saya merawat sugar glider, menjahit aksesori gaun dan tas, serta memotret dihargai sebagai karya,” kata karyawan bank swasta itu.

Tren meningkat
Di kalangan pehobi, Indrie memang sohor sebagai pembuat aksesori tupai gula. Ia piawai membuat kantong, gaun, tas, bantal, dan topi khusus satwa klangenan itu. Bagi Indrie dan sahabat-sahabatnya, satwa mungil asal tanah Papua itu paling populer setelah anjing dan kucing di kalangan anak muda. Menurut Chandra Gunawan pada masa mendatang popularitas tupai gula sebagai satwa klangenan dapat menggeser posisi anjing dan kucing yang lebih dulu dikenal.

Kategori foto terlucu, Di Balik Selimut karya Novita Nurul Ariffa

Kategori foto terlucu, Di Balik Selimut karya Novita Nurul Ariffa

Pemilik Ingonan—perusahaan penangkar tupai gula di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, itu menuturkan, “Tren tempat tinggal ke depan berupa apartemen dan rumah susun. Anjing dan kucing butuh ruang lebih luas dan sering tidak cocok. Sugar glider jadi alternatif karena dapat dipelihara di ruang sempit tanpa mengganggu tetangga,” kata Chandra memprediksi perubahan gaya hidup masyarakat pehobi.

Baca juga:  Burung Cinta Paling Cantik

Prediksi Chandra itu mulai mendekati kenyataan. Menurut penangkar di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Lutfhi Ansori, jumlah penangkar tupai gula di Indonesia mencapai angka 50, sementara jumlah komunitas lebih dari 37. Hobi mereka pun kini didukung oleh para dokter hewan yang mulai menerima tupai gula itu sebagai pasien. Catatan Lutfi di Jakarta dan sekitarnya saja ada minimal 15 dokter hewan yang melayani pehobi tupai gula.

Tren tupai gula juga tampak dari lomba fotografi yang digelar Ingonan. “Kami coba buat lomba foto ternyata sambutannya luar biasa. Ada 451 peserta yang mengirimkan karya foto untuk ikut 3 kategori foto yaitu terindah, terlucu, dan terunik,” kata Naluri Nasution, pengelola Ingonan. Dari jumlah peserta itu Ingonan menyeleksi menjadi 216 foto lalu menyerahkan penilaian ke juri satwa berpengalaman, Riza Marlon.

Kategori foto terunik, Berbelanja karya Indrie Yaniz.

Kategori foto terunik, Berbelanja karya Indrie Yaniz.

“Peserta yang mengirim foto kebanyakan anak muda. Ini tren satwa klangenan bagi anak-anak muda modern yang akrab dengan kamera, smartphone, dan media internet,” kata Nasution yang menggelar lomba foto pada periode Desember 2016 hingga Februari 2017 itu. Mereka antusias karena hadiah pemenang berupa tupai gula morph alias mutasi yang berharga jutaan. Sebut saja hadiah foto terindah berupa tupai gula albino, foto terlucu berupa tupai gula platinum mosaic, dan foto terunik berupa tupai gula leucistic.

Beragam lomba
Untuk lomba foto yang digelar Ingonan, pemenang kategori foto terindah adalah tupai gula koleksi Galih Pratama. Juri menobatkannya sebagai pemenang karena pengambil gambar memiliki konsep yang jelas. Galih menampilkan tupai gula classic koleksinya seolah berada di habitat aslinya. Di alam bebas tupai gula itu aktif pada malam hari karena termasuk hewan nokturnal. “Sugar glider dihadirkan seperti hendak mencium rembulan pada malam hari,” kata Riza.

Para pehobi tupai gula dari berbagai daerah mengikuti acara kontes foto tupai gula.

Para pehobi tupai gula dari berbagai daerah mengikuti acara kontes foto tupai gula.

Foto tupai gula milik Novita Nurul Ariffa pemenang kategori terlucu. Koleksi Novita berpose di balik selimut sambil melambaikan kedua kaki depan sehingga benar-benar tampil lucu. Novita pun berhak atas hadiah berupa sugar glider platinum mosaic idamannya. Menurut Nasution setiap pemenang pada setiap kategori itu sebelumnya bersaing dulu dalam 5 besar. Ingonan mengumumkan para pemenang lomba foto dalam sebuah acara 5 Maret 2017.

Baca juga:  Pemanggil Walet Tahan Lama

Sebanyak 20 pehobi menghadiri acara kontes foto yang berlangsung di Sawangan, Kota Depok itu. Di sana mereka juga memperoleh tambahan berupa pelatihan fotografi satwa oleh Riza Marlon. “Di era smartphone kenikmatan memiliki satwa klangenan bukan sekadar saat berinteraksi sehari-hari, tapi juga saat mengunggah foto dan membagikannya ke anggota komunitas,” kata Nasution. Menurut Lutfhi seiring meningkatnya tren memelihara tupai gula para pehobi menggelar beragam lomba.

Di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, misalnya panitia sukses menggelar lomba tupai gula memanjat dengan sistem turnamen. Kini para pehobi menggagas beragam konsep lomba lain dengan mempertimbangkan kebiasaan tupai gula di alam dan penangkaran. Misal, lomba meluncur ke tubuh pehobi. “Berbagai komunitas tengah berembuk untuk memperoleh kesepakatan,” kata Lutfhi yang mengelola Urbanpet. (Destika Cahyana, kontributor Trubus di Bogor)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d