Mengenal Ameliorasi dan Bahan-Bahan Amelioran

Ketersediaan lahan potensial untuk kegiatan pertanian semakin terbatas, baik secara kuantitas dan kualitas. lahan marjinal seperti: tanah pantai, lahan kering, lahan gambut dan lahan pasang surut, menjadi alternatif untuk memperluas lahan pertanian.

Namun, status kesuburan tanah marjinal perlu ditingkatkan terlebih dahulu untuk mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman. Teknologi yang biasanya diterapkan untuk meningkatkan kesuburan tanah adalah melalui konservasi serta penambahan amelioran / ameliorasi.

Ameliorasi adalah upaya meningkatkan kesuburan tanah melalui penambahan bahan-bahan tertentu. Pemilihan bahan amelioran menyesuaikan dengan klasifikasi lahan dan hasil evaluasi kesesuaian lahan untuk tanaman yang akan dibudidayakan.

Ameliorasi dilakukan dengan menambahkan bahan-bahan amelioran berupa organik, anorganik maupun kombinasi keduanya. Bahan amelioran yang bersifat organik di antaranya adalah pupuk kandang, pupuk kompos, jerami, dan sebagainya. Adapun bahan amelioran yang bersifat anorganik adalah kapur atau dolomit, zeolit, abu vulkanik.

Kapur atau Dolomit

Kedua bahan tersebut merupakan bahan anorganik amelioran bersifat basa. Kapur mengandung kalsium dan magnesium untuk mengurangi keasaman dan meningkatkan aerasi tanah, sehingga dapat mendukung aktivitas biologis di dalam tanah.

Pengapuran dilakukan pada tanah asam (tanah kering atau basah) seperti gambut dan lahan pasang surut. Manfaat pengapuran lainnya ialah penyerapan optimal pupuk, memperkuat akar dan mengurangi racun dalam tanah.

Pupuk Kandang

Limbah kotoran ternak merupakan bahan organik yang paling sering digunakan sebagai pupuk dan amelioran. Keunggulan pupuk kandang adalah mampu menyediakan unsur-unsur hara makro yang lebih banyak dan meningkatkan populasi mikroorganisme tanah. Tekstur pupuk kandang yang kasar juga mampu memperbaiki sifat fisik tanah dan menambah bahan organik di tanah yang berpasir. Kelemahan pupuk kandang sebagai amelioran adalah komposisi bahannya yang mudah terurai sehingga harus sering ditambahkan.

Zeolit

Zeolit adalah bahan mineral non logam yang sangat efektif untuk penukaran ion-ion hara dan menyimpan air dalam partikel tanah. Aplikasi zeolit dapat meningkatkan efisiensi pemupukan dan dapat membebaskan unsur hara mikro dalam tanah. Kelebihan zeolit adalah struktur bahannya yang stabil sehingga efektif digunakan dalam jangka waktu yang panjang. Penggunaan zeolit biasanya dicampurkan dengan kapur, asam humat, pupuk organik maupun urea. Kompos zeolit adalah pupuk kandang/organik yang diberikan 10-30% zeolit saat pengomposan.

Jerami Padi

Pemberian jerami padi seusai panen sering dilakukan terutama pada lahan sawah yang digunakan secara intensif. Kegiatan ini dikenal juga sebagai pengomposan insitu. Jerami akan terurai di lahan sehingga dapat menambah bahan organik dan mikroorganisme penyubur lahan. Aplikasi jerami lebih baik ditambahkan kompos atau pupuk kandang agar dapat memulihkan sifat fisik lahan sawah lebih baik dan menambah sumber hara.

Pasir Vulkanik

Pasir hasil endapan lahar gunung berapi atau pasir vulkanik banyak digunakan sebagai amelioran pada tanah-tanah berkadar lempung tinggi. Pemberian pasir vulkanik akan memperbaiki tekstur tanah untuk perakaran tanaman. Di samping itu, pasir vulkanik mengandung mineral-mineral seperti pospor, kalium, kalsium, magnesium dan natrium.

Biochar

Arang sisa pembakaran yang tidak sempurna (pirolisis) mengandung karbon yang tinggi, dikenal juga sebagai biochar. Bahan baku biochar dapat berasal dari kayu, batok kelapa, sekam padi, jerami, atau bahan yang memiliki serat kayu lainnya. Biochar digunakan untuk sebagai bahan amelioran karena dapat meningkatkan pH, mengikat air dan unsur hara, juga meningkatkan aktivitas biota dalam tanah. Di samping itu, biochar disinyalir dapat mengurangi pencemaran dan emisi gas rumah kaca. Biochar tidak dapat menyediakan hara secara langsung akan tetapi dapat meningkatkan efisiensi pemupukan.

 

Sumber : f a r m i n g . i d

Tags: