Kangkung yang dibudidayakan dengan teknik akuaponik portable drip atau tetes.

Kangkung yang dibudidayakan dengan teknik akuaponik portable drip atau tetes.

Perangkat akuaponik skala kecil dan cocok dipajang di halaman rumah sempit.

Kangkung Ipomoea aquatica yang tumbuh di 3 bak berukuran 50 cm x 100 cm itu tampak subur. Padahal, tanaman anggota famili Convolvulaceae itu tumbuh pada media tanam hidroton. Media itu terbuat dari tanah liat berbentuk butiran-butiran bulat seperti kelereng. Hidroton ber-pH netral. Pemilik Jirifarm, Jimmy Halim, hanya mengandalkan nutrisi dari air bak yang dihuni ikan lele.

Dari satu wadah tanam itu, Jimmy memanen 1.500 – 2.000 gram kangkung dan 1 kg lele. Sistem budidaya itu dikenal dengan sebutan akuaponik. Menurut teknisi Jirifarm, Didik Sulistyono, pada sistem akuaponik itu air dari bak ikan mengalir ke wadah penampung. Penampung itu berupa wadah plastik berbentuk kotak berkapasitas 50 liter. Tujuannya agar pompa tidak mengganggu ikan.

Lahan sempit

Ir. Jimmy Halim, pemilik kebun Jirifarm, Tangerang, Banten.

Ir. Jimmy Halim, pemilik kebun Jirifarm, Tangerang, Banten.

Didik memompa air dari wadah penampung, lalu mengalirkannya ke wadah tanam melalui pipa berbahan polivinilklorida (PVC) berdiameter 0,5 inci. Air keluar dari pipa menetes langsung di daerah perakaran melalui lubang-lubang yang dibuat di sepanjang pipa. Itulah sebabnya Jimmy di Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, menyebutnya sistem akuaponik portabel drip.

Air dari bak ikan itu tidak seluruhnya diserap tanaman. Air yang berlebih akan tertampung di dasar wadah tanam, lalu mengalir keluar melalui lubang di dasar wadah tanam. Dari wadah tanam air mengalir kembali ke bak ikan melalui pipa. “Sirkulasi harus selalu diperhatikan. Media tanam hidroton juga berperan menyaring air dari bak ikan. Hasilnya, kualitas air kolam tetap sehat sehingga pertumbuhan ikan dapat optimal,” katanya.

Baca juga:  Bisnis Hebat Olahan Coconut

Menurut Jimmy untuk wadah tanam berukuran 100 cm x 50 cm membutuhkan nutrisi yang berasal dari 1 kg ikan agar tanaman tumbuh optimal. Jadi, jika satu perangkat akuaponik terdiri atas 3 wadah tanam, maka perlu 3 kg ikan yang dipelihara untuk memenuhi nutrisi tanaman. Jimmy merancang perangkat akuaponik skala kecil agar pemilik rumah berhalaman sempit dapat menerapkannya.

Ilustrasi: Bahrudin

Ilustrasi: Bahrudin

“Perangkat akuaponik itu juga dapat dibongkar-pasang, mudah dirangkai, dan ekonomis,” tutur alumnus University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat, itu. Keunggulan lain, sayuran yang dihasilkan bebas dari pupuk dan pestisida kimia. Selain sistem portabel drip, Jimmy juga merancang akuaponik portabel dengan teknik rakit apung atau floating raft. Ia menggunakan papan stirofoam berukuran 2 m x 1 m untuk menopang 200 tanaman.

Filter sikat, salah satu filter untuk menyaring air kolam.

Filter sikat, salah satu filter untuk menyaring air kolam.

Ia menempatkan papan itu di permukaan bak berukuran 2 m x 1 m x 0,3 m. Menurut Jimmy untuk memenuhi nutrisi 200 tanaman itu perlu 4 kg ikan. Jimmy memelihara ikan itu dalam dua tangki berisi masing-masing 160 liter air. Satu tangki berisi 2 kg nila dan lainnya 2 kg lele. Ia lalu memompa air dari tangki berisi ikan ke tangki filter yang bersekat sehingga terbagi menjadi 4 ruang.

Salah satu ruang berisi filter berupa sikat, sedangkan dua ruang lainnya berisi filter berupa bioball dan kain kasa atau japanese filter mat. Adapun satu ruang sisanya sebagai ruang pengendapan. Dari filter itu, air lalu mengalir ke bak tanam dan siap digunakan sebagai sumber nutrisi.

NFT

Didik Sulistyono, teknisi Jirifarm dan filter bioball untuk akuaponik rakit apung.

Didik Sulistyono, teknisi Jirifarm dan filter bioball untuk akuaponik rakit apung.

Jimmy juga merancang perangkat akuaponik sistem nutrient film technique (NFT). Perangkat itu terbuat dari pipa berukuran 100 cm x 10 cm x 5 cm. Dalam satu perangkat terdiri atas 5 baris pipa. Masing-masing pipa terdiri atas 10 lubang tanam atau total 50 tanaman. Untuk memenuhi nutrisi seluruh tanaman, Jimmy memelihara 1 kg lele dengan jumlah air minimal 80 liter.

Baca juga:  Sekam Tingkatkan Produksi

Ia mengalirkan air dari bak ikan melalui filter. Air yang telah mengalami penyaringan itulah yang dialirkan ke pipa tanam atau gully. Dari pipa itu air kembali mengalir ke bak pemeliharaan ikan, begitu seterusnya. Jimmy membanderol ketiga sistem akuaponik portable itu dengan harga bervariasi. Ia membanderol akuaponik portable sistem rakit apung Rp12 juta, drip Rp4 juta, dan NFT Rp5 juta.

Jimmy menuturkan perangkat itu dapat digunakan untuk memenuhi gizi rumah tangga atau komersial. Jika untuk komersial Jimmy menyarankan pilih komoditas ikan bernilai ekonomi tinggi dan diminati pasar, seperti nila, mas, dan lele. Sayuran seperti bayam hijau, bayam merah, kangkung, dan selada dapat menjadi pilihan karena diminati pasar. (Marietta Ramadhani)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d