Akhiri Retak Daun

Akhiri Retak Daun 1
Sayuran daun retak ditolak pasar

Sayuran daun retak ditolak pasar

Sungkup jaring mengurangi kerusakan sayuran dari 70% menjadi 10%.

Bambang Susilo tertegun begitu mengetahui pasar menolak 60% dari 2,5 ton sayuran kirimannya ke pasar swalayan. Musababnya daun beragam sayuran seperti bayam, caisim, kailan, kangkung, pakcoy, dan selada itu retak. Bahkan, sobek di beberapa bagian. Terbayang kerugian di benak Manajer Lapangan Kebun Cinta Organik di Cikarawang, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu.  Saat masih di lahan, di permukaan daun muncul retakan halus.

Retakan itu melebar 4—5 hari kemudian sehingga daun sobek. Akibatnya bagian sortir hanya meloloskan separuh hasil panen. Itu belum cukup lantaran setelah kirim, pembeli menolak 60% hasil sortiran. Musababnya sebagian hasil sortir itu ternyata sobek. Total jenderal, sayuran yang sobek mencapai  1,5 ton. Akibatnya setiap bulan ia merugi Rp7,5-juta. Dengan harga rata-rata Rp5.000 per kg di kebun, omzet bulanan Kebun Cinta Organik mestinya mencapai Rp12,5-juta.

Penggunaan insect screen dan fish net untuk mengatasi daun retak dan sobek

Penggunaan insect screen dan fish net untuk mengatasi daun retak dan sobek

Sungkup

Dari lahan 2.500 m2, Bambang dan rekan-rekan bagian produksi memperoleh 2,5 ton sayuran yang terdiri dari 500 kg bayam (20%), 375 kg caisim (15%), 375 kg kailan (15%), 500 kg kangkung (20%), 375 kg pakcoy (15%), dan 375 kg selada. Sayuran yang paling banyak sobek adalah selada air dan pakcoy. Musababnya daun kedua sayuran itu paling tipis. Sejatinya sobek mulai terjadi pada 2009, tetapi saat itu tidak terlalu menjadi masalah. “Dulu hanya 10—15% sayuran yang sobek,” kata Bambang.

Untuk mengatasi masalah itu Bambang  membuat sungkup pada awal Oktober 2013. Ia menguji coba sungkup pada komoditas selada keriting. Ketika sayuran lalap itu pindah tanam dari persemaian ke bedengan, ia menyungkup dengan jaring serangga (insect screen) setinggi 80 cm dari permukaan tanah dengan penopang bambu. Pekerja kebun memasang sungkup di luasan 80 m2, setara 8 bedeng tanam berukuran panjang 8 meter, lebar 1 m dan tinggi 20 cm.

Bambang Susilo (kiri belakang) bersama para pegawai Kebun Cinta Organik

Bambang Susilo (kiri belakang) bersama para pegawai Kebun Cinta Organik

Ide menyungkup itu muncul setelah Bambang berkunjung ke sentra sayuran di Cipanas, Kabupaten Cianjur. Ternyata petani di sana menggunakan sungkup plastik untuk menaungi tanaman. Tujuannya mencegah kerusakan akibat terpaan air hujan sekaligus menjinakkan sinar matahari ketika bersinar terik. Namun, Bambang tidak serta-merta meniru. Menurut Bambang, iklim mikro di Bogor terutama di Dramaga yang berfluktuasi berbeda dengan di Cipanas yang cenderung stabil. Oleh karena itu  diperlukan bahan penaung yang awet sekaligus melindungi dari terpaan hujan.

Baca juga:  Panen Urban Farming BI DKI

Bambang memilih jaring serangga sebagai bahan sungkup. Jaring serangga itu semula akan dipakai untuk pembatas dari lahan sebelahnya yang menerapkan pola budidaya nonorganik. Lantaran belum digunakan, jaring selebar 200 cm sepanjang 50 m teronggok selama 5 bulan. “Ketimbang membeli plastik peneduh, kami memanfaatkan yang ada. Toh, fungsinya sama-sama mengurangi intensitas sinar matahari dan mengerem kecepatan butiran air hujan sehingga tidak merusak daun,” ujar Bambang.

Selain itu, jaring itu tahan hingga  4 tahun dibandingkan plastik yang hanya 6 bulan. Jaring dengan lubang berukuran  0,25 cm2 alias 4 lubang per cm2 itu meloloskan 60—70% intensitas sinar matahari. Bambang memasang jaring di persemaian dan lahan sekaligus. Lantaran lama teronggok dan tertutup debu, pekerja mencuci terlebih dahulu jaring itu. Untuk menaungi persemaian, pekerja tinggal menangkupkan jaring sepanjang permukaan bedeng semai.

Penggunaan sungkup plastik di kebun Parung Farm, Cugenang, Cianjur

Penggunaan sungkup plastik di kebun Parung Farm, Cugenang, Cianjur

Saat bibit berumur 7 hari dengan tinggi 5—6 cm dan terdapat 2—3 helai daun, pekerja memindahkan ke bedengan lahan selebar 1,2 m sepanjang 10 m. Sebelumnya pekerja menaungi bedengan lahan dengan jaring membentuk setengah lingkaran selebar 1,2 meter dan tinggi sungkup sekitar 80 cm. Setiap bedeng tanam memerlukan jaring sepanjang 10 m dan lebar 1,2 m. Sayuran ternaungi jaring selama masa tanam. Usai panen, pekerja menggulung jaring tanpa membongkar rangka untuk mengurangi pekerjaan pada masa tanam mendatang.

Hasilnya mencolok: sayuran yang rusak jauh berkurang. Kerusakan sayuran dataran tinggi dengan masa tanam 30—40 hari seperti kailan, pakcoy dan selada keriting berkurang menjadi hanya 10% dari semula kerusakan hingga 90%. Kerusakan sayuran dataran sedang dengan masa tanam 15—30 hari seperti bayam, caisin, dan kangkung juga tinggal 10% dari semula 50%.

Dengan sungkup tingkat kerusakan akibat retak hanya 10%

Dengan sungkup tingkat kerusakan akibat retak hanya 10%

Berlebih

Baca juga:  Bonsai Fantastik Negeri Ginseng

Sungkup juga menjadi andalan kebun organik milik PT Kebun Sayur Segar (KSS) di Desa Galidra, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. “Pada budidaya sayuran organik, sungkup melindungi tanaman dari terpaan hujan secara langsung dan sekaligus mencegah embun menempel. Masalahnya, daun yang telanjur retak atau sobek mengundang cendawan yang mempercepat pembusukan dan mengurangi daya simpan,” ujar Endri Tribuana, penanggung jawab sayuran organik KSS.

Pengalaman Endri nyaris serupa dengan Bambang. Penggunaan sungkup mengurangi kegagalan panen dari 40—60% menjadi hanya 10%. Menurut Edhi Sandra MSi, ahli fisiologi tanaman Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, intensitas sinar matahari berlebih membuat morfologi tanaman tidak sesuai dengan perkembangannya. “Dinding sel tanaman menebal lebih cepat ketimbang pertumbuhan inti sel,” kata Edhi. Dengan kata lain, ukuran terlalu cepat membesar sebelum tanaman benar-benar kuat. Penyebabnya antara lain suhu, kelembapan, atau intensitas matahari berlebih.

Peneliti sayuran di Balai Penelitian Tanaman Sayur, Lembang, Jawa Barat, Ir Budi Jaya, menyatakan penyebab retak atau sobek daun antara lain pemupukan berlebih unsur nitrogen. Itu kerap diperburuk oleh kelembapan tanah yang terlalu tinggi lantaran terlalu banyak menyiram. “Berikan pupuk dengan unsur nitrogen, fosfor, dan kalium berimbang serta sesuaikan penyiraman dengan cuaca. Jika pada musim hujan penyiraman tidak perlu setiap hari, sebaliknya jika pada musim kemarau minimal dua kali sehari,” kata Budi. Pasalnya, penyiraman berlebih menyebabkan daun terlalu banyak menyerap air. Saat suhu udara tinggi, terjadi penguapan tinggi yang memicu retak di permukaan daun.  (Muhamad Cahadiyat Kurniawan)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x