Penganan aman untuk anak autis berbahan tepung beras, gula aren, dan tanpa telur

Penganan aman untuk anak autis berbahan tepung beras, gula aren, dan tanpa telur

Anak berkebutuhan khusus perlu beragam perawatan. Salah satunya pemberian makanan khusus.

Perilaku Diajeng Desiana Nindyasari (7 tahun) lebih mirip anak balita. Ia sulit fokus pada 1 hal dan perhatiannya mudah teralihkan. Berinteraksi dengan sebaya maupun orang yang lebih tua pun ia lakukan tanpa kontak mata. Sudah begitu, Ajeng, sapaannya, juga belum mampu merangkai kata menjadi kalimat. Ia hanya bisa mengucap beberapa patah kata, seperti bayi yang baru belajar bicara. Meski demikian, soal keaktifan jangan ditanya. Ajeng sangat aktif dan tidak betah duduk diam. Saking aktifnya, ia kerap tiba-tiba keluar rumah tanpa diketahui orang tuanya.

Riswanto, sang ayah, pun pusing tujuh keliling. Ia lantas mengajak putrinya mengunjungi terapis. Sang terapis mendiagnosis Ajeng tergolong anak autistik. Meski sudah menduga hasil diagnosis itu, sejatinya Riswanto tidak menyangka putrinya akan tumbuh menjadi anak autistik. Pasalnya, perkembangan Ajeng pada fase bayi tergolong cepat. Ia mampu berlari pada usia 10 bulan. “Saat masih merangkak, kecepatan merangkaknya melebihi bayi seusianya. Ia bisa merangkak secepat orang dewasa berjalan kaki,” kata Riswanto.

Keruan saja begitu mampu berlari, Ajeng membuat kewalahan kedua orangtuanya. Riswanto sampai membuat 3 lapisan pintu depan untuk mencegah buah hatinya keluar rumah. Bagi Ajeng kecil, itu sama sekali bukan hambatan. “Kalau lepas dari pengawasan, tahu-tahu dia sudah masuk halaman tetangga,” ungkap pria kelahiran Palembang itu. Gejala autistik sejatinya tampak sejak dini. Ajeng tidak pernah bertatap mata, meski memberikan respons.

 

Dari anak berkebutuhan khusus, Diajeng Desiana Nindyasari kini tumbuh menjadi remaja normal

Dari anak berkebutuhan khusus, Diajeng Desiana Nindyasari kini tumbuh menjadi remaja normal

Kemampuan tinggi

Autistik termasuk gangguan perkembangan otak, sistem saraf, bahkan keduanya sekaligus. Gangguan itu menyebabkan perkembangan anak cenderung salah arah. Jika lazimnya perkembangan energi anak mendorongnya untuk mulai bicara, pada anak autistik justru meningkatkan kegelisahan yang ia alami. Efeknya ia memiliki energi lebih untuk berperilaku sangat aktif. Kegelisahan berlebih itu membuat anak autistik sulit fokus terhadap satu hal. Gangguan autistik terbagi 2: kurang kemampuan memperhatikan (attention deficit disorder, ADD) dan kurang kemampuan memperhatikan sekaligus perilaku berlebih (attention deficit and hyperactivity disorder, ADHD).

Baca juga:  Rumah Tanam Mini Merebut Hati

Gejala autistik biasanya tampak sejak anak berumur kurang dari 3 tahun. Tanda-tandanya antara lain gangguan interaksi, keterlambatan kemampuan komunikasi atau penguasaan kata, maupun perilaku berulang.   “Meski orangtua bisa mengenali gejala itu, tetapi sebaiknya perlu penegasan dokter atau psikolog anak,” kata  Debora Ratna Andriyani STh dari Yayasan Autisma Indonesia sekaligus terapis di Sekolah Kasih Mama—sekolah anak berkebutuhan khusus di Depok, Jawa Barat.

Menurut Ratna, dengan perlakuan dan asupan makanan yang tepat, anak autistik bisa tumbuh menjadi anak normal. Beberapa anak bahkan mempunyai kemampuan tinggi melebihi sebayanya, misalkan mampu memainkan alat musik dan membaca partitur not balok di usia sangat muda. Anak lain mampu memimpin atau mendamaikan teman-temannya yang berselisih. “Namun waktu dan tingkat kesulitan terapi tergantung kompleksitas gangguan perkembangan yang ia alami,” kata Ratna.

Penanganan anak berkebutuhan khusus sebaiknya dimulai pada usia 2—4 tahun. “Usia itu merupakan masa keemasan karena sel-sel otak anak berkembang pesat,” kata Ratna. Saat berusia 3 tahun, Ajeng mulai menjalani terapi herbal. Di bawah penanganan herbalis, Ajeng mulai menguasai beberapa kata. Namun, ia tetap sulit fokus dan menghindari kontak mata. Agresivitasnya justru tidak berkurang. Itu sebabnya, Riswanto menghentikan terapi herbal 4 tahun berselang. Ia lantas mencoba terapi pijat. Namun itu hanya berlangsung 2 bulan lantaran tidak menampakkan kemajuan berarti.

Pilih konsumsi sayuran organik

Pilih konsumsi sayuran organik

Suatu hari, Riswanto membaca pengaruh kandungan makanan terhadap anak berkebutuhan khusus. Ia lantas tertarik mencobakan kepada Ajeng. Manajer finansial sebuah perusahaan swasta di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu mengatur pola konsumsi putrinya. Ajeng tidak mengonsumsi gula pasir, susu sapi atau olahannya (keju dan mentega), telur, terigu, kacang-kacangan, ikan laut, biji-bijian, atau olahan semua bahan pangan itu.

Jika makan kacang panjang atau buncis, Ajeng hanya makan kulit tanpa biji. Ia juga menghindari makanan bercitarasa tajam seperti pedas, asin, atau asam. Makanan berpengawet, pemanis buatan, atau berpenyedap rasa juga terlarang. Ia hanya mengonsumsi nasi dengan sayuran hijau dan ikan air tawar. Untuk memberikan rasa manis, Riswanto menggunakan gula aren. Kue basah atau kering menggunakan tepung beras, sagu, atau kentang. Jenis sayuran hijau yang ia berikan juga sayuran organik yang bebas residu pestisida atau pupuk sintetis.

Baca juga:  Panen Sayuran di Balik Jeruji

 

Makanan khusus

Tiga bulan berjalan, Ajeng yang saat itu berumur 8 tahun menunjukkan perkembangan pesat. Ia mampu fokus dan mulai bisa membentuk kalimat sederhana. Itu dibarengi ketelatenan Riswanto yang setiap hari mengajak putrinya bercerita pengalaman harian sang anak. Sedikit demi sedikit, kemampuan Ajeng kian berkembang. Ia menjadi tenang dan bisa mempelajari banyak hal baru.

Menurut Prof Dr drh Clara Meliyanti Kusharto MSc, guru besar Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor, kandungan beberapa jenis makanan berpotensi memicu reaksi manusia yang sensitif. “Gangguan perkembangan anak berkebutuhan khusus membuat mereka sensitif terhadap kandungan beberapa jenis makanan,” tutur pakar ilmu gizi masyarakat itu.

Terigu misalnya, mengandung zat gluten yang memicu rasa gelisah. Sementara makanan tinggi kalori seperti gula pasir atau minuman bersoda memberikan energi berlebih yang menuntut penyaluran. Itu sebabnya kue kering berbahan terigu dan gula pasir menjadi “kombinasi maut” yang memicu hiperaktivitas anak berkebutuhan khusus. Pun demikian dengan kandungan protein tinggi dalam kacang, telur, atau biji-bijian.

Mi beras, minyak dan tepung bekatul, serta gula aren menjadi makanan anak berkebutuhan khusus

Mi beras, minyak dan tepung bekatul, serta gula aren menjadi makanan anak berkebutuhan khusus

Setahun sejak menjalani diet, Ajeng menjadi anak berumur 9 tahun yang normal dan bisa bergaul dengan teman sebayanya. Pada umur 10 tahun, pada 2007, Riswanto mengakhiri diet putrinya. Ajeng kini bebas mengonsumsi makanan atau minuman yang ia inginkan. Ia menjadi gadis ceria yang cepat mengejar ketertinggalannya. Debora Ratna mengacungkan jempol untuk kepulihan Ajeng. “Pulih dalam waktu 2 tahun pada usia itu adalah mukjizat,” kata Ratna. Pasalnya, masa keemasan sudah terlewat jauh.

Toh, Ratna mewanti-wanti orangtua anak berkebutuhan khusus untuk mencegah anak mengalami tekanan berlebih. Hal itu bisa memicu stres yang berpotensi membuat autisme kembali “kumat”. Kuncinya sederhana: orangtua mesti menjalin komunikasi intensif dengan anak dan memastikan sang buah hati senantiasa merasa nyaman. Pada konsumsi tetap diperhatikan

Titiek Widayati Sugiantoro, pembina pertanian organik di Cemorokandang, Malang, Jawa Timur memproduksi kecap nirkedelai untuk anak berkebutuhan khusus. Kehadiran produk-produk itu menjadi gerbang bagi anak berkebutuhan khusus untuk mencapai kesembuhan dan tumbuh normal. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Lutfi Kurniawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d