Akar Ranting Istimewa 1
Dengan konsep taman dinding, Yoseph Winada ubah batang dan ranting yang tak terpakai menjadi rangkaian bernilai

Dengan konsep taman dinding, Yoseph Winada ubah batang dan ranting yang tak terpakai menjadi rangkaian bernilai

Akar dan ranting kering bahan rangkaian unik.

Yoseph Winada kerap geram melihat batang dan ranting kering berserakan di pinggir jalan. “Nasib mereka hanya berakhir di tempat sampah atau digunakan sebagai bahan bakar saja,” ujarnya. Padahal, bagi Yoseph akar dan ranting itu materi potensial rangkaian bernilai. Ia mengatakan banyak orang tidak menyadari bahwa dedaunan, batang, ranting, dan akar tanaman kering bisa digunakan untuk menghias ruangan. Dengan meniru konsep taman dinding, perangkai bunga di Tangerang Selatan, Banten, itu mengubah materi kering itu menjadi rangkaian bunga unik.

Pria berusia 52 tahun itu memanfaatkan teralis besi usang berukuran 70 cm x 30 cm sebagai rangka rangkaian. Ia lantas melilitkan akar beringin di setiap jeruji teralis hingga membentuk sebuah jaring menggunakan kawat. Selanjutnya, ia mengikat sebuah batang kering berbentuk gelombang tepat di bagian depan teralis. Untuk memberikan kesan segar, anggota Ikatan Perangkai Bunga (IPBI) Jakarta Selatan itu memilih daun anthurium jenmanii, beringin putih, dan kordilin.

Searah jarum jam Anastasia Inne Adhie, Yoseph Winada, Yohannes Triyono, dan Dewi Suharso memberikan sentuhan seni pada batang, ranting, dan akar tanaman yang kerap dilirik sebelah mata menjadi sebuah rangkaian nan cantik

Searah jarum jam Anastasia Inne Adhie, Yoseph Winada, Yohannes Triyono, dan Dewi Suharso memberikan sentuhan seni pada batang, ranting, dan akar tanaman yang kerap dilirik sebelah mata menjadi sebuah rangkaian nan cantik

Kemerdekaan

Di Ciputat, Tangerang Selatan, Dewi Suharso juga memanfaatkan batang dan ranting kering untuk menghasilkan rangkaian nan cantik. Dengan tema hari kemerdekaan, ia membuat rangkaian berbahan sederhana, tetapi sarat makna. “Melalui rangkaian itu saya ingin menyampaikan pesan berani, suci, dan kebebasan,” ujarnya. Caranya sederhana, mula-mula ia memotong floral foam menjadi bentuk kubus lalu menyelimutinya dengan daun ruscus. Selanjutnya, ia menjepit floral foam itu dengan batang kayu kering.

Baca juga:  Merah Bertahan

Beruntung, Dewi menemukan batang kayu kering yang memiliki bentuk dan lekuk yang menarik alami. “Bentuk kayu yang meliuk alami memberikan aksen lengkung pada rangkaian,” katanya. Ia memilih bunga soka merah dan krisan putih untuk mengisi rangkaian agar kesan kemerdekaan terasa kental. “Kedua bunga itu mewakili warna bendera yang bermakna berani dan suci,” katanya.

Rangkaian bertema kemerdekaan menggunakan batang dan ranting kering sebagai materi penyusunnya

Rangkaian bertema kemerdekaan menggunakan batang dan ranting kering sebagai materi penyusunnya

Berikutnya, ia menata daun song of jamaica dan australian leaf sebagai materi penyusun rangkaian. Sebagai lambang kebebasan, ia meletakkan seekor merpati di bagian atas rangkaian. Menurut perangkai bunga di Jakarta Selatan, Yohanes Triyono, untuk membuat rangkaian berelemen utama tanaman kering nan elok cukup mudah. “Perangkai pemula pun bisa melakukannya sebab teknik yang digunakan hanya potong, ikat, dan tempel,” katanya.

Lihat saja rangkaian karya Yohanes. Rangkaian bak miniatur pohon tertiup angin itu tercipta dari teknik merangkai yang sederhana. Untuk membuat posisi rangkaian yang miring memang agak rumit. “Perlu trik,” ujar Yohanes. Ia memilih pot keramik berbentuk kayu gelondong sebagai wadah rangkaian. Selanjutnya, ia mengisi pot itu dengan semen lalu meletakkan batang dan ranting kering pada posisi miring. Butuh waktu 5 jam hingga semen mengering dan batang miring sempurna. Setelah semen kering, Yohanes menyelimutinya dengan lumut dan echeveria hijau agar terkesan alami.

Berikutnya, pria berusia 27 tahun itu mengikatkan ranting rami kering dan floral foam di bagian atas pohon. Ia lantas menancapkan anggrek bulan ungu, cymbidium merah muda, dan anggrek tanah kuning pada floral foam itu.

Akar dan ranting kering pun dapat digunakan untuk membuat rangkaian bergaya ikebana

Akar dan ranting kering pun dapat digunakan untuk membuat rangkaian bergaya ikebana

Ikebana

Baca juga:  Harga Baru

Anastasia Inne Adhie, perangkai bunga di Bintaro, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, malahan punya cara menarik agar batang dan ranting kering tampil memikat dalam rangkaian. Ia menggunakan teknik merangkai bunga khas jepang alias ikebana. Dengan memakai aliran ikenobo bergaya jiyuka, Inne-sapaannya-mengubah ranting-ranting kering itu menjadi hiasan meja nan apik. Hanya dengan daun walisongo dan bunga bugenvil merah serta putih rangkaian mampu tampil cantik.

Inne menyusun setiap materi pada floral foam yang diletakkan di atas pot berbahan kuningan. Ia melilitkan ranting kering dan batang bunga bugenvil menggunakan bantuan kawat bunga nomor 18. Setiap materi disusun sedemikian rupa hingga membentuk sebuah tatanan ritme dan warna yang harmonis. “Pada rangkaian ikebana tidak diperbolehkan ada materi yang menghadap ke bawah,” tutur Inne. Ia mengatakan filosofi ikebana adalah bentuk persembahan kepada Tuhan. Itu sebabnya setiap materi harus menghadap ke atas.

Anggota Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) Sekarjagad itu meletakkan rangkaian tersebut di atas meja yang sudah dilapisi dengan dua model kain batik. Hasilnya sungguh menawan. Inne berhasil memadukan rangkaian bergaya negeri matahari terbit dengan latar batik khas tanahair menjadi sebuah kesatuan yang menarik. Ia hanya butuh waktu 30 menit untuk menyelesaikan rangkaian sederhana tapi memikat itu. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *