Air hujan terionisasi menjinakkan virus hepatitis B.

Riyanti pulih hepatitis B setelah rutin mengonsumsi air hujan terionisasi.

Riyanti pulih hepatitis B setelah rutin mengonsumsi air hujan terionisasi.

Belum setengah jam Riyanti bekerja di ladang ketika tubuhnya terasa lelah. Biasanya ibu 3 anak itu mampu menggarap ladang sejak matahari terbit hingga menjelang tengah hari. Perempuan 33 tahun itu menghadapi masalah lain beberapa hari kemudian, yakni perutnya mual dan nyeri.

Karena tidak merasa lapar, Riyanti kerap melewatkan waktu makan. Keruan staminanya kian merosot. Suami Riyanti, Alex Kusnadi, mengajaknya memeriksakan diri. Dokter yang memeriksa Riyanti mendiagnosis infeksi virus hepatitis B. Untuk mengatasi gejala itu dokter meresepkan obat dan menyarankan agar ia rutin memeriksakan diri. Selama 2 tahun Riyanti menuruti anjuran dokter.

Air hujan terionisasi

Riyanti menuturkan, “Kalau habis minum obat badan terasa enak. Tapi beberapa jam kemudian lemas dan mengantuk lagi.” Padahal, ia mengonsumsi obat maksimal 3 kali sehari. Itu dampak virus hepatitis B (HBV) yang menjadi ancaman lantaran gejalanya tidak langsung tampak setelah infeksi. Dokter umum di Jakarta, dr. B. Aldwin Aisley, menyatakan infeksi HBV berlangsung lama dan berisiko memicu kerusakan hati secara perlahan-lahan.

Tanda terjadinya kerusakan hati itu antara lain peradangan atau perlemakan hati, yang menyebabkan perut terasa kembung dan tidak nyaman. Tanpa pengobatan, lama-kelamaan kerusakan itu memicu fibrosis atau pengerasan jaringan hati. Fibrosis menyebabkan kegagalan fungsi hati, gangguan pembentukan darah, atau penumpukan cairan di beberapa bagian tubuh seperti kaki atau perut.

Status hepatitis B adalah seumur hidup sehingga pengidapnya harus rutin memeriksakan diri. Menurut dr. Ina Rosalina, Sp.A(K), M.Kes seperti termaktub dalam Indonesian Journal of Applied Sciences (IJAS) 5—10% penduduk Indonesia mengidap hepatitis B. Jumlah itu membuat Indonesia menjadi negara dengan jumlah penderita hepatitis B terbanyak ke-3 di Asia.

Pr. Vincentius Kirjito mengampanyekan konsumsi air hujan sejak 2003.

Pr. Vincentius Kirjito mengampanyekan konsumsi air hujan sejak 2003.

Pada 2014 Alex mengenal pegiat air hujan terionisasi di Muntilan, Kabupaten Magelang, Pr. Vincentius Kirjito. Kirjito (64 tahun), giat mengampanyekan pemanfaatan air hujan sejak bertugas di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten pada 2003.

Baca juga:  Bekerja dengan Bunga

Lantaran merasakan manfaat untuk kesehatan, Kirjito aktif memperkenalkan konsumsi air hujan yang diionisasi. Alex lantas membawa pulang air hujan terionisasi. Esoknya Alex kembali menemui Kirjito untuk mempelajari ionisasi air.

Sepekan kemudian, ia merangkai sendiri wadah air beserta perangkat ionisasi. Kebetulan waktu itu—Maret 2014—musim hujan sehingga Riyanti dan Alex bergantian menampung air hujan dengan ember.

Tiga bulan, Riyanti merasakan perubahan. Ia lebih bertenaga sehingga mampu menggarap ladang, memanggul pupuk kandang, membersihkan gulma, atau menggendong pulang sayuran maupun padi hasil panen. Sebelumnya, “Boro-boro memanggul beban, berjalan ke ladang saja lelah,” kata Riyanti.

Keluarga sehat

Merasa tubuhnya kembali bugar, Riyanti tidak lagi memeriksakan diri ke dokter atau menebus salinan resep. Perempuan bertubuh mungil itu hamil pada akhir 2014. Alex bahagia sekaligus waswas lantaran, “Dokter yang memeriksa menyatakan anak penderita hepatitis B rentan cacat lahir baik fisik maupun mental,” katanya mengenang.

Riyanti melahirkan bayi perempuan sehat melalui persalinan normal pada Oktober 2015. Tidak sampai 3 jam pascabersalin, Riyanti bisa mandi dan berpakaian pantas. Pascakonsumsi air hujan terionisasi, keluarga Alex dan Riyanti nyaris tidak pernah sakit.

Sebelumnya, penghasilan dari lahan yang tidak seberapa luas itu kerap terkuras untuk berobat. Dokter di Denpasar, Provinsi Bali, yang juga rutin mengonsumsi air hujan, dr. Frederik Kosasih, M.Repro (48 tahun), menyatakan bahwa tubuh memerlukan asupan air yang mendukung kehidupan.

“Bentuk molekul air berubah setiap saat tergantung zat di dalamnya,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, itu. Air hujan terionisasi memiliki molekul paling mirip dengan air “ideal” pendukung kehidupan itu. Hal itu menjelaskan kemampuan air hujan terionisasi membersihkan tubuh dari pengotor sehingga kesehatan membaik. Namun Kirjito maupun Frederik mengingatkan bahwa air hujan terionisasi bukan obat. (Argohartono Arie Raharjo)

Baca juga:  Setangkai Palem Dalam Rangkaian

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d