Air Basa Stop Osteoporosis

Air Basa Stop Osteoporosis 1

Konsumsi air basa membantu mengembalikan kondisi tulang yang rapuh.

 

Alat sederhana untuk memproduksi air basa melalui proses elektrolisis.

Alat sederhana untuk memproduksi air basa melalui proses elektrolisis.

 

Saat menopause, Maria Yacinta Melati mulai banyak keluhan. Lutut kiri kerap terasa linu. Bobot tubuh pun terus bertambah hingga mencapai 100 kg. Dokter menganjurkan agar Maria mengatur pola makan serta rutin berjalan pagi atau sore. Namun, aktivitas itu malah memicu nyeri di bagian lutut makin sering kambuh. Maria membuka restoran di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sibuk memasak di dapur dari pagi sampai sore.

Kesibukan itu membuat kaki kirinya sangat sakit sehingga tak mampu lagi berdiri. Kondisi itu amat mengkhawatirkan Maria. Ia cemas kesehatannya memburuk. Itulah sebabnya Maria memeriksakan diri ke dokter. Setelah memeriksa, dokter mendiagnosis perempuan 56 tahun itu mengidap osteoporosis. Hasil foto rontgen menunjukkan adanya lubang di tulang betis dan tulang membengkak.

Risiko tinggi

Menurut konsultan reumatologi, divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dr. Bambang Setiyohadi, Sp.P.D., perempuan memang lebih berisiko terkena osteoporosis daripada pria. Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi osteoporosis pada perempuan berusia kurang dari 70 tahun mencapai 18—36%; pria 20—27%. Prevalensi osteoporosis pada perempuan berusia lebih dari 70 tahun 53,36%, pria 38%.

Makin bertambah usia, kian tinggi risiko osteoporosis. Setiap kali umur bertambah satu dekade,maka risiko osteoporosis meningkat 1,4—1,8 kali. Itu berkaitan dengan menurunnya kadar estrogen. Kadar hormon itu berefek langsung dan tak langsung pada tulang. Secara langsung kadar estrogen yang tinggi meningkatkan formasi tulang dan menghambat resorpsi atau pemecahan dan penyerapan tulang oleh osteoklas.

Osteoklas memecah jaringan dalam tulang dan melepaskan mineral-mineral sehingga menyebabkan transfer kalsium dari jaringan tulang ke darah. Secara tak langsung estrogen berpengaruh terhadap penyerapan kalsium di usus, ekskresi kalsium di ginjal, dan sekresi hormon paratiroid. Pascamenopause pembentukan tulang di tubuh tidak berubah bahkan cenderung menurun.

Air Basa Stop Osteoporosis 2

Air basa hasil elektrolisis diduga mengembalikan kondisi tubuh yang asam sehingga mencegah kehilangan kalsium.

Padahal, produksi estrogen jauh berkurang. Defisiensi estrogen meningkatkan resorpsi tulang daripada pembentukannya. Aktivitas osteoklas atau pengikisan tulang dan ekskresi kalsium di ginjal juga turut meningkat. Akibatnya, pascamenopause massa tulang hilang hingga 1,4% per tahun. Massa tulang yang rendah dan kerusakan jaringan tulang dapat menyebabkan tulang menjadi rapuh.

Baca juga:  Guppy Albino Kampiun

Untuk mengatasi sakit akibat osteoporosis yang dialami Maria, dokter lalu memberi obat. Namun, ketika obat habis kaki Maria sakit lagi. “Rasa sakitnya datang dan pergi,” ujar perempuan asal Yogyakarta itu. Ketika kambuh, ia hanya bisa berbaring telentang. “Kalau miring, rasa sakit semakin terasa,” tuturnya. Maria tidak mampu berjalan saking sakitnya. Ia terpaksa menggunakan kursi roda untuk bergerak di dalam rumah sekali pun.

Air basa

Suami Maria, Joko Sutrisno, pernah memperoleh informasi penyebab osteoporosis karena kondisi tubuh yang terlalu asam atau kerap disebut asidosis. Kondisi tubuh menjadi asam lantaran terlalu banyak mengonsumsi bahan pangan penyebab asam, seperti produk hewani, gula, dan sereal. Saat kondisi tubuh menjadi asam, maka tubuh akan bekerja keras untuk menghilangkan atau menetralisir kelebihan asam dan racun dengan menggunakan mekanisme pertahanan tubuh.

Kondisi tubuh Maria Yacinta Melati yang menderita osteoporosis membaik setelah rutin mengonsumsi air basa hasil elektrolisis.

Kondisi tubuh Maria Yacinta Melati yang menderita osteoporosis membaik setelah rutin mengonsumsi air basa hasil elektrolisis.

Tubuh sejatinya memiliki kemampuan alami untuk mengurangi kelebihan asam melalui sirkulasi darah, pernapasan, keringat, dan air kemih. Namun, jika kondisi kelebihan asam itu berlangsung terus-menerus, maka tubuh akan makin kehilangan daya tahan dan mineral penting, salah satunya kalsium (Ca) dari tulang sehingga menyebabkan tulang menjadi rapuh. Ia menyarankan istri agar memperbanyak asupan makanan basa, yaitu sayuran dan buah-buahan.

Namun, ia ragu karena kedua jenis makanan itu banyak mengandung residu pestisida. Joko lalu teringat pelajaran saat masih Sekolah Menengah Atas (SMA) tentang elektrolisis air. Elektrolisis itu dapat memisahkan air menjadi air asam dan air basa. Ia lalu mencoba merakit alat elektrolisis sederhana. Percobaan itu sukses menghasilkan air basa ber-pH 9—10. Joko lalu memberikan air itu kepada Maria untuk dikonsumsi sebagai air minum pengganti air biasa.

Baca juga:  Saliara Jaga Buah Kopi

Sepekan rutin mengonsumsi air basa, rasa nyeri di kaki Maria mereda. Namun, efek berbeda dialami 2 orang rekannya yang juga mengonsumsi air basa produksi Joko. “Mereka malah muntah,” tuturnya. Sejak itu Joko pun berhenti mengelektrolisis air sehingga Maria pun berhenti mengonsumsi air basa. Efeknya, ibu 3 anak itu kembali sakit. Pada 2011 di tanah air tren air alkali. Ketika itu Joko kembali membuat air basa setelah menyempurnakan alatnya.

Joko sukses memproduksi air basa ber-pH mencapai 11. “Rasanya agak pahit, tidak seperti air putih biasa,” kata Maria yang kembali rutin mengonsumsi air basa. Proses membuat air basa bisa memanfaatkan air tanah atau air hujan. Sepekan rutin mengonsumsi air basa, Maria mampu berjalan meski masih terasa nyeri. Setiap kali Maria hendak berlatih berjalan, Joko meminumkan tablet analgesik alias obat pereda sakit yang dijual bebas.

Makin lama nyeri makin mereda. Maria pun berhenti mengonsumsi analgesik. Tiga bulan kemudian ia melakukan rontgen ulang. Hasilnya, kondisi tulang normal. “Ukurannya kembali normal dan tidak ada lubang,” tuturnya. Kini Maria mampu beraktivitas normal. Ia rutin berjalan kaki tanpa dibayangi rasa nyeri. Aktivitas itu berhasil menurunkan bobot tubuhnya yang semula mencapai 100 kg kini stabil di kisaran 75—76 kg.

Sayangnya belum ada penelitian ilmiah yang menjelaskan duduk perkara air basa memperbaiki kondisi tulang pasien osteoporosis. Maria sudah merasakan faedah mengonsumsi air basa. Kini tugas para periset untuk menyingkap rahasia itu. (Imam Wiguna/Peliput: Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x