Ahli Tanam Hingga Panen 1
Penggunaan mesin tanam bibit solusi mengatasi tenaga kerja harian yang semakin sulit.

Penggunaan mesin tanam bibit solusi mengatasi tenaga kerja harian yang semakin sulit.

Alat tanam padi yang efisien, praktis, dan menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan laba.

Data Badan Pusat Statistik 2014 menunjukkan jumlah tenaga kerja sektor tanaman pangan menurun setiap tahun. Pada Agutus 2011 jumlah penduduk laki-laki dan perempuan umur 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor tanaman pangan sebanyak 2,7-juta jiwa. Jumlah itu merosot menjadi 2,4-juta jiwa pada 2012 dan 2,3-juta jiwa pada 2013. Penurunan itu ternyata berdampak kian sulitnya mencari tenaga kerja harian.

Saat musim tanam padi, misalnya, penanaman serempak membuat petani harus mencari tenaga kerja hingga ke kecamatan lain agar waktu tanam tidak mundur. Petani semakin terbebani lantaran upah tenaga kerja harian cukup tinggi dan meningkat setiap tahun. Petani di Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, harus merogoh kocek Rp1-juta untuk membayar tenaga kerja untuk menanam bibit di lahan seluas 3.400 m².

Petani melakukan penyemaian dalam wadah khusus bila menggunakan mesin tanam.

Petani melakukan penyemaian dalam wadah khusus bila menggunakan mesin tanam.

Mekanisasi
Ketua kelompok tani Tani Maju di Kecamatan Ngrampal, Hartono, mengatakan, “Beruntung, beberapa petani sudah menggunakan mesin tanam padi sehingga biaya tanam yang dikeluarkan berkurang.” Hartono menuturkan petani hanya perlu mengeluarkan Rp300.000 untuk biaya sewa mesin. Artinya, petani menghemat biaya tanam hingga Rp700.000.

Mesin berbahan bakar premium itu memiliki kecepatan gerak maksimal 2,77 km per jam. Tangki bahan bakarnya berkapasitas 4 liter bensin sehingga mesin dapat beroperasi berjam-jam. Diameter roda mesin cukup besar, yakni 660 mm sehingga dapat berjalan di lahan dalam dan berlumpur. Mesin mudah dibawa sebab hanya berbobot 160 kg. Menurut Hartono kebutuhan benih petani menurun sejak menggunakan bantuan mesin tanam.

Baca juga:  Dato Syed Elias: Kolektor Seribu Buah Surga

Semula petani memerlukan 20 kg benih untuk lahan seluas 3.400 m². “Kini hanya 12 kg,” ujar Hartono. Keuntungan lain, petani tidak perlu menyemai benih di lahan. Penyemaian bisa dilakukan di halaman rumah. Biasanya petani menyemai benih dalam kotak kayu berukuran 4 m x 1,25 m x 2 cm. Media tanam berupa campuran pasir halus dan pupuk kandang sapi dengan perbandingan 5:1. Bibit siap tanam umur 14 hari setelah tebar.

Menurut anggota staf Departemen Pemasaran PT Kubota Machinery Indonesia, Melinda Tunjung Wulan, persemaian menjadi langkah awal penentu keberhasilan mesin. Benih padi yang ditebar pada tray pembibitan adalah benih basah agar persentase bibit yang hidup tinggi. Melinda menganjurkan petani menggunakan mesin tabur benih, bukan tangan. Tujuannya agar penyebaran benih merata sehingga tidak ada lubang tanam yang terlewati.

Bibit siap tanam pada umur 14 hari setelah semai.

Bibit siap tanam pada umur 14 hari setelah semai.

Melinda menuturkan petani harus menyemai benih dalam tray pembibitan alias bak semai supaya lebih mudah memindahkan bibit ke mesin tanam. “Petani hanya perlu melepaskan bibit dari bak semai lalu meletakkannya di mesin tanam,” ujarnya. Mesin mirip traktor tangan itu praktis dan irit waktu. Petani hanya butuh satu orang untuk mengoperasikan mesin.

Cukup dengan mengoperasikan tuas kopling gerak dan kopling tanam maka mesin siap dipakai. Bibit-bibit padi akan tertanam di lahan secara otomatis. Petani dapat mengatur mesin sesuai jarak tanam dan jumlah bibit per lubang yang diinginkan. Mereka hanya butuh 8 jam untuk menanam bibit di lahan seluas 1 ha dengan bantuan mesin pintar itu. Sementara jika menggunakan tenaga kerja lahan yang berhasil ditanam hanya 7.500 m2.

Panen
Muhammad petani padi di Kecamatan Piturawa, Kabupaten Sidrap, Sulawesi Selatan, Muhammad Rusdi pun merasakan untungnya bercocok tanam dengan bantuan mesin pintar. Berbeda dengan Hartono, pria berusia 35 tahun itu menggunakan mesin modern saat panen tiba. Ia memanfaatkan mesin yang berfungsi sebagai pemotong, pengumpul, dan perontok sekaligus itu sejak 2 tahun lalu. Sebelumnya, ia memanen padi secara manual.

Baca juga:  Kelinci Penghuni Kafe

Rusdi memerlukan 100 tenaga kerja untuk memanen padi di lahan seluas 1,5 ha. Panen berlangsung selama 8 jam. Bandingkan dengan cara kerja mesin multifungsi itu. Dalam sehari, Rusdi bisa menyelesaikan panen di lahan 3 ha. Tenaga kerja yang dibutuhan cukup 8 orang. Penggunaan mesin lebih efisien, Rusdi tinggal duduk di ruang kemudi untuk mengoperasikan alat itu lalu mengendarainya di lahan siap panen.

Mesin panen multifungsi mudah dioperasikan.

Mesin panen multifungsi mudah dioperasikan.

Ia dapat dengan mudah mengatur kecepatan mesin sesuai kondisi lahan. Mesin berkekuatan 60 HP itu mempunyai struktur crawler berbahan karet sehingga tidak merusak tanah. Besar tekanan pada permukaan tanah 0,2 kgf/cm². Alat itu dilengkapi mesin penuai dan perontok. Mesin penuai berukuran 0,9 m x 1,828 m itu bermata pisau selebar 1905 mm. Sementara mesin perontok berukuran 0,62 m x 1,615 m memiliki kecepatan putaran 560 rpm.

Mesin panen multifungsi itu memiliki wadah penyimpanan berkapasitas 200 kg. Bulir gabah yang dihasilkan bersih dan bebas debu sebab berteknologi 3-way air stream cleaning system. Menurut perekayasa alat dan mesin pertanian dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian, Serpong, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Ir Puji Widodo MSi, mesin-mesin pertanian sangat membantu kerja petani.

Alat perontok padi, misalnya. Penggunaan alat itu mampu mengurangi kehilangan hasil dan memperoleh gabah bermutu baik. Pun waktu yang digunakan lebih singkat dan hemat tenaga kerja. Pemanfaatan alat pertanian untuk menanam dan memanen menekan biaya produksi. Dampaknya laba petani kian besar. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments