AGRO MILENIAL 1
Eka Budianta

Eka Budianta

Bagaimana wajah pertanian kita di tangan generasi milenial?  Ada gedung 60 lantai untuk kebun sayuran. Lahan tidak selalu sawah dan ladang.  Bisa tanpa tanah atau hidroponik dengan pipa-pipa dan aneka media tanam. Bisa juga akuaponik, kombinasi antara hidroponik dan perikanan. Itulah satu di antara konsep “millennial farming” – bentuk cerdik dari agrikultur abad ke-21. Agromilenial adalah manusia pertanian masa depan.

Mereka diharapkan lebih efisien, menguntungkan, dan yang terpenting: mampu memberi makan dunia dengan pasokan yang lebih sehat. Proporsi dan penjadwalannya pun akurat. Di sana terpadu nilai-nilai hidup sehat, teknologi ramah lingkungan, pemanfaatan sumberdaya alam dan manusia secara optimal. Sarana perkebunan, persawahan, bahkan peternakan dan perikanan terbuka pada alternatif.

Literatur agro

Hal itu sudah dimulai pada konsep-konsep pertanian kota alias urban farming. Kegiatannya dapat dilihat pada perkembangan vertikultur, budidaya dalam pot, dan rumah-rumah hidroponik yang mulai meluas. Tantangan utama yang harus dihadapi adalah pendidikan.  Hampir satu generasi yang lalu – berpuncak pada 2008, minat pertanian di Indonesia menurun drastis.  Sekitar 3.000 kursi program studi pertanian di 47 perguruan tinggi negeri kosong.

Teknologi vertikultur atau budidaya tanaman bertingkat untuk menyiasati keterbatasan lahan.

Teknologi vertikultur atau budidaya tanaman bertingkat untuk menyiasati keterbatasan lahan.

Minat mahasiswa belajar agrikultur anjlok di berbagai tempat. Berbagai cara ditempuh agar pertanian bisa menarik kalangan muda.  Otomatisasi, komputerisasi, robotisasi, penggunaan drone juga dikerahkan. Berbagai kota besar dan kecil menggiatkan festival agro, pameran flora-fauna, kampanye makan ikan, lomba buah nasional, festival durian, dan berbagai insentif lainnya. Yang belum kelihatan adalah bacaan pertanian. Literatur agro di di tanah air kita masih kurang.

Karen Tambayong yang melihat pameran buku pertanian di Seoul, Korea Selatan, merasa gemas. “Bermacam buku bacaan pertanian diterbitkan untuk anak-anak,” katanya. “Selain buku-buku pertanian untuk anak, ada juga kegiatan ekstrakurikuler, yang membuat anak sadar pada pentingnya pertanian.  Masyarakat dibuat suka dan hormat pada peran agrikultur.”

Di Amerika – generasi milenial yang lahir setelah 1980, meliputi seperempat dari jumlah penduduk. Mereka lebih terdidik, menguasai teknologi, dan punya akses terbuka pada informasi. Jangan heran kalau berbagai harapan menyangkut pangan dunia mulai 2020 ini dilimpahkan kepada mereka. Untuk itu, literatur tradisional maupun modern (video, film, situs internet, diskusi daring) dipersiapkan dan diperkaya dengan kiat, resep, inovasi, dan tantangan agrikultur masa depan.  Hal itu berbeda dengan ketersediaan bacaan di tanah air.

Baca juga:  Kelapa Top untuk Pekebun

“Masyarakat kita lebih mementingkan bacaan agama dan moral untuk anak-anak,” kata pakar bacaan anak, Murti Bunanta. Memang, cerita rakyat berorientasi kehidupan di pedesaan. Namun, belum menumbuhkan cinta bertani atau beternak.

Suara petani

Memang sedikit sekali acara di televisi, radio, maupun media cetak  seputar pertanian, peternakan, perikanan, agribisnis maupun agroindustri.  Padahal, minat generasi muda pada pertanian masih dapat diharapkan.  Untuk kalangan perkotaan, hal ini tampak pada gerakan berkebun, dan makin banyaknya komunitas pencinta alam dan lingkungan.

Di kalangan pedesaan, kita bisa menyaksikan program-program pelatihan dan tumbuhnya komunitas-komunitas hijau.  Satu di antaranya yang saya ikuti adalah pelatihan daulat pangan oleh Nahdlatul Ulama di Lampung Timur.  Empat puluh peserta dilatih selama satu pekan untuk mencari cara bertani dengan cerdas. Setelah selesai, mereka diberi kesempatan menyebarkan pesan ke seluruh Indonesia.

“Kita harus mengubah pemikiran untuk menjadi petani yang mandiri dan cerdas,” pesan Ruli Hikmayanti – seorang mahasiswi di Purbolinggo, Lampung. Dia belajar mengawinsilangkan jenis-jenis padi supaya panen meningkat. Selama ini keluarganya terbiasa menanam varietas yang kurang menguntungkan.  “Kalau mau menanam bahkan harus mencari utang untuk beli benih,” kata Ruli. Terobosan yang dirintis adalah membangun bank benih.

Petani mendapat pinjaman benih dan harus mengembalikan dengan benih nanti pada musim panen. Tantangannya tentu meningkatkan kualitas benih itu. Itu kelihatan pada semangat Ruli bersama teman-temannya.  Itulah pertanda generasi milenial mulai bangkit, melesat maju, berkibar-kibar.

Awal dari itu ditandai dengan munculnya komunikasi agro yang intensif. Contoh selain penerbitan “Pesan dari Petani Purbolinggo” itu adalah munculnya berbagai kelompok diskusi, baikdi lapangan maupun di dunia maya. Secara daring, bermunculan kelompok-kelompok komunikasi melalui internet.  Basis yang utama adalah Facebook – karena bisa menampung ribuan peserta.  Namun, banyak juga yang melalui grup WhatsApp atau WA.

Baca juga:  Khasiat Hebat Avokad

Diskusi daring

Di antara grup WhatsApp adalah Gerakan Pemuda/I Petani yang berjalan intensif dengan dua akun. Setiap akun WA hanya mewadahi 256 peserta.  Hebatnya, gerakan itu didukung oleh aktivis-aktivis yang serius dan tersebar dari Aceh sampai Papua.  Secara reguler, grup itu mengadakan diskusi daring. Narasumbernya bisa praktisi, akademisi, atau organisator, dan pengamat.  Topiknya beragam, mulai dari ilmu tanah, irigasi, pemupukan, sampai teknologi pascapanen.

Masyarakat perkotaan kini banyak mengadopsi teknologi hidroponik dan tanam bertingkat untuk budidaya sayuran.

Masyarakat perkotaan kini banyak mengadopsi teknologi hidroponik dan tanam bertingkat untuk budidaya sayuran.

Yang menarik, diskusi daring sering berlanjut ke acara kopi darat (kopdar) di berbagai tempat. Pihak-pihak yang paling berkepentingan menyediakan diri menjadi tuan rumah.  Biaya transportasi dan akomodasi ditanggung bersama.  Kalau beruntung, para narasumber dididatangkan dengan dukungan sponsor.  Dukungan bisa diupayakan dari organisasi nasional, internasional, pemerintah daerah, maupun pihak swasta.

Sebuah perusahaan kurir bahkan memberikan sponsor untuk mengirimkan bahan-bahan penyuluhan ke berbagai pelosok.  Ada juga yang membantu tiket para peserta diskusi.  Jangan lupa pembahasannya bisa dilakukan dipulau-pulau terpencil Nusa Tenggara Timur maupun di tepi hutan belantara Sumatera, Kalimantan, bahkan Papua.  Muhamad Arif Hidayat, administratur grup WA itu, misalnya, sering harus berkunjung dari daerah satu ke lainnya.

Grup WA Dunia Hortikultura – diikuti lebih dari 200 peserta, istimewa karena menyajikan laporan dari berbagai tempat.  Termasuk di antaranya, acara seminar dan ekshibisi di luar negeri.  Kegiatan lapangan yang paling sukses adalah pelatihan budidaya buah-buahan, silih berganti.

Indonesia memerlukan banyak dorongan dan dukungan untuk membangun dan menguatkan agro milenial. Namun, tanda-tanda bahwa ininisiatif dari dalam masyarakat sendiri sudah tampak menggembirakan.  Hal itu ditengarai dengan bermunculannya berbagai komunitas berbasis komunikasi daring, berikut praktik nyata di lapangan.  Tidak mengherankan bila aktivis-aktivis pertanian dari kota yang sukses di desa, mulai disiarkan di program televisi yang prestisius. ***

*) Budayawan, kolumnis Trubus sejak 2001, aktivis Tirto Utomo Foundation dan kebun organik Jababeka, Cikarang

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *