Agave Elok Incaran 1
Agave potatorum ichiokan mediopicta alba

Agave potatorum ichiokan
mediopicta alba

Pesona agave selalu memikat pehobi.

Rayuan jarak jauh itu membuahkan hasil juga. Pehobi sukulen di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Arief Aliza, merayu rekannya yang juga pehobi di Amerika Serikat. Sepekan lamanya mereka tarik ulur harga Agave potatorum kichiokan mediopicta alba. Arief kadung jatuh hati pada sosok agave mutasi itu. Ia akhirnya memiliki tanaman hias eksotis nan langka itu dengan harga US$300 atau US$100 lebih murah daripada yang ditawarkan pehobi di negeri Abang Sam.

“Yang membuatnya langka adalah variegata putih berada di tengah, pada umumnya di pinggir daun. Ada pula variegatanya yang berwarna krem hilang ketika daun tua, variegata hilang,” ujar pehobi berumur 34 tahun itu. Menurut kolektor tanaman sukulen di Jakarta, Fernando Manik, Agave potatorum kichiokan mediopicta alba milik Arief memang termasuk langka. Sebab, variegatanya berada di tengah sehingga disebut mediopicta dan mutasinya  permanen.

Agave isthmensis striata

Agave isthmensis striata

Artinya, ketika daun menua, variegatanya tidak hilang. “Yang sering dijumpai itu variegata marginata, kalau yang mediopicta jarang apalagi berwarna putih. Kebanyakan warnanya kuning pucat kayak krem,” ujar Fernando. Beruntung ada seorang pehobi yang rela menjualnya. Menurut Arief agave kichiokan mediopicta alba sulit dan sangat jarang ditemui di situs daring atau online penjualan tanaman. Pantas saja sulit, pemilik agave cantik itu  hanya sekitar 10 pehobi di seluruh dunia.

Cumi-cumi

Arief girang bukan kepalang begitu agave idaman itu tiba di Indonesia persis sepekan setelah ia mentransfer uang. Ia lantas memindahkan tanaman anggota famili Agavaceae itu ke pot bermedia tanam campuran pasir malang, sekam bakar, kompos, dan kapur pertanian dengan perbandingan 40 : 20 : 20 : 20. Setelah dua pekan, ayah 2 anak itu  memberikan pupuk lambat urai.  Pemberian berikutnya, 4 bulan kemudian.

Baca juga:  Kerajaan Seruni van Ruijven

Selain memupuk, Arief juga menyiram agave sekali sepekan atau ketika media terlihat mengering. Selama 1,5 tahun merawat untuk menunjang pertumbuhan, ia memberikan pupuk nitrogen, fosfor, dan kalium seimbang. Agave koleksi Arief bukan satu-satunya yang unik dan langka. Sugita Wijaya, kolektor tanaman sukulen di Surabaya memperoleh Agave bracteosa mediopicta.

Agave titanota mediopicta

Agave titanota mediopicta

Sugita sempat kecewa lantaran tanaman mati ketika sampai Indonesia. Waktu pengiriman lama yaitu sebulan dan keadaan tanaman masih sangat rentan. Ketika itu, pada 2012, agave yang dikirim berukuran seujung jari. Sugita pun meminta kolektor di Amerika tengah untuk mengirimi lagi agave unik itu. Karena ukurannya masih sangat kecil dan rentan mati maka meminta pemilik untuk merawatnya selama setahun. Akhirnya pada pertengahan 2013, Sugita memperoleh agave dambaan itu.

Sang arsitek rela menunggu karena kepincut dengan keunikannya yang luar biasa. “Selain variegata mediopicta, Agave bracteosa ini pun nyaris tak berduri,” ungkapnya. Umumnya, ciri agave memiliki duri yang menempel di bagian pinggir daun. Agave itu juga disebut agave calamari karena sosoknya seperti cumi-cumi—daun ramping, dan melengkung.

Lain lagi cerita Meisu Tamta, kolektor sukulen di Jakarta. Kesukaannya pada duri Agave titanota membuatnya langsung membeli 2 buah tanaman seukuran koin Rp500. Menurutnya untuk mendapatkan Agave titanota variegata itu relatif sulit. Beruntung seorang rekan yang juga kolektor di Jakarta, menawarkan sukulen eksotis itu. Kini A. titanota variegata itu baru sebesar genggaman tangan orang dewasa. Agave yang dikenal dengan keelokan durinya itu konon berasal dari Meksiko. Meisu membelinya masing-masing seharga Rp4-juta.

Striata

Agave bracteosa mediopicta

Agave bracteosa mediopicta

Tanpa sengaja mencari, Meisu mendapatkan Agave isthmensis striata dari seorang rekan. Ketika itu, rekan yang juga kolektor di Jakarta sedang memperbanyak agave variegata garis. Tak disangka, potongan kecil seukuran koin kecil Rp500 diberikan kepadanya. Meisu pun langsung  mengoleskan fungisida pada luka potongan daun untuk menghindari busuk. Setiba di rumah ia langsung menempatkan dalam pot dalam media tanam pasir malang dan batu apung dengan perbandingan 1:1. Ia juga menambahkan sedikit daun-daun kering untuk memenuhi nutrisi. “Daun-daun kering berguna sebagai humus,” ujar Meisu.

Baca juga:  Duri Tajam Tetap Sentosa

Ia menyimpan agave di tempat yang terkena pancaran sinar matahari penuh. Setelah 2—3 pekan, Meisu memberikan pupuk lambat urai dan hanya menyiram seminggu sekali. Agave pun tumbuh sehat dan kini terdiri atas 15 daun. Agave yang diterima 3 tahun lalu itu tampak kompak dengan variegata garis acak di seluruh bagian daun.

Jenis agave unik lain adalah Agave striata mediopicta yang membulat dan ramping memanjang. “Bentuknya unik sehingga tidak terlihat jelas apakah termasuk variegata mediopicta atau marginata,” ungkap Sugita. Namun, ia lebih melihatnya sebagai variegata striata atau garis. Sugita memperoleh agave itu pada dua tahun silam dari kolektor di Jepang. Saking sukanya, Sugita langsung membeli 3 tanaman sekaligus.

Namun sayang, 4 bulan berselang, tanaman tak bisa bertahan lalu mati. Daun baru tumbuh berwarna putih semua. Ia menduga, kurangnya klorofil membuat agave tak bisa membuat makanan. Begitu pun pada tanaman kedua. Barulah pada tanaman ketiga mampu bertahan hidup sampai dua tahun. Kini tanaman itu dititipkan pada rekannya yang juga kolektor agave di Cipanas, Jawa Barat. (Pressi Hapsari Fadlilah/Peliput: Bondan Setyawan)

FOTO:

  1. Agave potatorum kichiokan mediopicta alba
  2. Agave isthmensis striata
  3. Agave titanota mediopicta
  4. Agave bracteosa mediopicta

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *