Penyelamatan spesies langka, gondang Ficus variegata di hutan Cikampek, Kabupaten Karawang

Penyelamatan spesies langka, gondang Ficus variegata di hutan Cikampek, Kabupaten Karawang

“Pohon menjadi landmark atau penanda suatu kawasan. Di Sukabumi ada Warungkondang atau Warungkiara karena di dekat kedua pohon itu berdiri warung tempat orang bertemu,” kata ahli Botani alumnus Universitas Birmingham, Inggris, Gregori Garnadi Hambali. Kondang atau gondang Ficus variegata dan kiara adalah nama pohon, keduanya anggota famili Moraceae alias beringin-beringinan. Masyarakat memanfaatkan keberadaannya menjadi penanda tempat.

Gregori Garnadi Hambali mengatakan, penamaan suatu wilayah mengacu pada tumbuhan atau binatang bersifat universal. Artinya di berbagai negara hal itu lumrah. Malaysia, umpamanya, menyematkan nama ipoh Antiaris toxicaria yang toksik alias beracun untuk menyebut ibukota negara bagian Perak. Sayangnya, kini banyak pohon penyumbang nama seperti kedoya, kesambi, gondang, makasar, atau srengseng yang multiguna itu ibarat tinggal nama. Populasinya menyusut drastis, jika tak boleh dibilang hilang.

Pohon ipoh Antiaris toxicaria

Pohon ipoh Antiaris toxicaria

Celakanya penduduk yang mendiami kawasan itu pun tak lagi mengenang namanya. Gregori Garnadi Hambali mengatakan, “Manusia jadi ancaman bagi spesies lain. Karena perluasan pemukiman, banyak pohon yang ditebang. Kepentingan menanam pohon tidak ada.” Padahal, idealnya kita mampu menjaga dan memanfaatkan beragam spesies yang kini langka itu. “Oleh genarasi yang akan datang nanti kita dicap sebagai generasi yang abai dan lalai mengamankan harta kekayaan botani,” ujar Gregori yang acap bereksplorasi ke berbagai negara untuk mengumpulkan plasma nutfah. Ahli etnobotani dari Pusat penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Prof Yohanes Purwanto PhD mengatakan secara umum spesies hilang atau langka antara lain budidaya monokultur, di sebuah lahan hanya ada satu jenis spesies yang ditanam. Ia mencontohkan pada 1960 Indonesia memiliki beragam varietas padi bercitarasa lezat. Di Provinsi Jawa Tengah ada varietas nandi yang pulen dan kini tinggal nama. Saat itu pemerintah memiliki program swasembada beras, menggalakkan penanaman padi IR yang digadang-gadang lebih tahan wereng. Akibatnya banyak varietas padi lokal yang akhirnya hilang. Profesor riset itu menyebutkan penyebab lain hilangnya sebuah varietas, yakni jenis yang fungsinya sama, sifat genetik seperti masa produksi lama, pengaruh ekologis seperti perubahan suhu ekstrem, dan potensi yang belum terungkap. Menurut Purwanto masih banyak potensi spesies yang belum terungkap. Padahal, boleh jadi senyawa yang terkandung dalam tumbuhan itu berkhasiat obat atau bermanfaat lain bagi kehidupan. Itulah sebabnya riset ilmiah untuk mengungkap khasiat suatu spesies sangat diperlukan.

Daun pohon ipoh

Daun pohon ipoh

Purwanto mengatakan riset itu juga harus berjalan dengan konservasi untuk melindungi spesies itu. Selain itu daerah sebaiknya memiliki otonomi untuk mengelola sumberdaya hayati. Upaya konservasi itu antara lain dengan penanaman seperti dilakukan kawasan hutan dengan tujuan khusus di Cikampek, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Hutan milik Pusat Penelitian Hasil Hutan seluas 51 ha itu mengoleksi 50 jenis tanaman, sebagian tanaman langka seperti kesambi Schleichera oleosa, gondang Ficus variegata, dan kayu kuku Pericopsis mooniana.. Gregori Garnadi Hambali menyarankan untuk memanfaatkan pohon-pohon langka penyumbang nama kawasan itu sebagai pohon penghijauan atau taman kota. Kebetulan beberapa spesies seperti kesambi memang pas antara lain karena pertumbuhan relatif cepat, selalu hijau, dan berbunga indah. Kesambi juga mampu mengundang burung. Unggas itu menyukai buah kesambi. Dengan penanaman spesies langka itu diharapkan memperluas ruang terbuka hijau. Kemampuan menyimpan air tanah per ha ruang terbuka hijau mencapai 900 m3 per tahun.

Prof Hadi Susilo Arifin PhD, salah satu cara penyelamatan spesies langka multiguna dengan penanaman di pekarangan

Prof Hadi Susilo Arifin PhD, salah satu cara penyelamatan spesies langka multiguna dengan penanaman di pekarangan

Meski demikian, bukan berarti penanaman spesies langka seperti kedoya atau kesambi hanya terkonsentrasi di taman kota. Menurut guru besar Arsitektur Landskap Institut Pertanian Bogor, Prof Hadi Susilo Arifin PhD, penanaman juga di perumahan, tepi jalan, atau tanah yang belum termanfaatkan. Itu sekaligus sebagai solusi atas minimnya ruang terbuka hijau di Jakarta yang amat kecil, hanya 9%. Padahal, idealnya luas ruang terbuka hijau mencapai 30%. Hadi Susilo Arifin menyatakan sulit mewujudkan luas ruang terbuka di ibukota hingga 30%. Jalan keluar lain untuk menyelamatkan spesies langka yang multiguna seperti kedoya, kesambi, dan gondang dengan penanaman di pekarangan. Menurut Hadi Susilo konservasi tumbuhan langka pun memungkinkan di pekarangan. Potensi pekarangan di Indonesia sangat besar, mencapai 10-juta ha. Menurut doktor Manajemen Lanskap dan Ekologi alumnus Okayama University, Jepang, itu luas pekarangan kurang dari 120 m2 termasuk kategori sempit, 120—400 m2 (sedang), 400—1.000 m2 (luas), dan lebih dari 1.000 m2 (sangat luas). Menurut konsultan pekarangan di Jepang dan Amerika Serikat itu pekarangan juga berperan penting untuk konservasi sumberdaya genetik dan upaya lestari melalui kebun bibit menuju peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Manfaat lain, mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menciptakan lingkungan hijau yang bersih, sehat, dan aman. Beragam cara ditempuh agar para penyumbang nama Jakarta itu tidak tinggal cerita. (Sardi Duryatmo)

Baca juga:  Terpikat Ixora Kerdil

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d