Agar Ritus Tak Putus 1
Salinan Lontar Usada milik Kebun Raya Eka Karya Bali.

Salinan Lontar Usada milik Kebun Raya Eka Karya Bali.

Sejatinya masyarakat Hindu menganggap semua tanaman seperti pulai Alstonia scholaris yang digunakan sebagai perlengkapan upacara adat sebagai pohon suci. “Itu sebagai wujud rasa hormat dan syukur hubungan manusia dengan tumbuhan,” kata peneliti botani di Kebun Raya Eka Karya Bali, I Dewa Putu Darma. Menurut Dewa daun pulai melambangkan kebahagiaan atas keberhasilan melimpahnya hasil panen padi. Itulah sebabnya masyrakat Bali yang beragama Hindu menyertakan daun pulai dalam upacara adat. Namun, pohon kerabat bintaro itu relatif langka. Begitupun dengan tanaman lain yang digunakan untuk upacara. Mereka mesti masuk-keluar desa lain untuk mencari pohon pulai dan tumbuhan lainnya seperti kembang sikat.

Aneka tanaman obat di Taman Usada berasal dari terjemahan Lontar Usada dan balian.

Aneka tanaman obat di Taman Usada berasal dari terjemahan Lontar Usada dan balian.

Pantas waktu pencarian amat lama, hingga tujuh hari. Namun, kini warga Desa Mundukpaku, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali, amat mudah memperoleh daun pulai setelah 2014. Warga mengunjungi tempat koleksi tanaman yang digunakan untuk upacara adat Hindu, Taman Panca Yadnya. Sejatinya tempat itu salah satu taman tematik di Kebun Raya Eka Karya Bali, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Direktur Kebun Raya Eka Karya Bali, Dr. Bayu Adjie, mengatakan terdapat sekitar 212 jenis tanaman untuk upacara adat di Taman Panca Yadnya. Diperkirakan ada sekitar 270 jenis tanaman upacara adat di Bali. Artinya taman yang berdiri sejak 1991 itu memiliki 79% koleksi tanaman upacara adat. “Koleksi terlengkap tanaman upacara adat ada di Kebun Raya Eka Karya Bali,” kata Bayu.

Peneliti botani di Kebun Raya Eka Karya Bali, I Dewa Putu Darma.

Peneliti botani di Kebun Raya Eka Karya Bali, I Dewa Putu Darma.

Hanya tanaman upacara adat yang berhabitat di dataran rendah seperti kelapa yang tidak ada di Taman Panca Yadnya. Harap mafhum Kebun Raya Eka Karya Bali berelevasi 1.200—1.350 meter di atas permukaan laut (m dpl). Kedatangan sejumlah warga ke kebun raya yang diresmikan pada 15 Juli 1959 itu beberapa kali terjadi. Mereka datang untuk memperoleh daun atau bunga tanaman tertentu sebagai pelengkap upacara.

I Dewa Putu Darma, pernah menerima beberapa warga yang memerlukan bunga mawar Rosa sp., bunga kacapiring Gardenia augusta, bunga kembang sepatu Hibiscus rosa-sinensis, dan bunga kembang seribu Hydrangea macrophylla. Putu Darma yang pada 2012 menjabat sebagai Kepala Seksi Konservasi Eksitu Tumbuhan mengabulkan keinginan mereka.
Lagi pula mereka tidak mengambil tanaman utuh. “Momen itu juga sangat strategis sebagai wahana pendidikan konservasi,” kata Dewa. Saat itu ia menjelaskan pentingnya tanaman untuk kelengkapan upacara adat. Harapannya masyarakat menyadari pentingnya melestarikan tanaman sehingga merasakan keuntungan-keuntungan konservasi. Kedatangan warga mencari tanaman untuk upacara adat ke Kebun Raya Eka Karya Bali pertanda buruk bagi konservasi.

Dahulu masyarakat Bali menanam berbagai tanaman upacara di halaman dekat tempat sembahyang (pemerajan). Tujuannya memudahkan mereka mengambil tanaman upacara yang diperlukan. Tidak hanya tanaman untuk upacara adat, tanaman untuk bumbu dapur seperti jeruk yang diambil daunnya tersedia di halaman. Bahkan keluarga masyarakat Bali tempo dahulu mempunyai lumbung.

Majegau salah satu tanaman berharga di Taman Panca Yadnya.

Majegau salah satu tanaman berharga di Taman Panca Yadnya.

“Artinya ketahanan masyarakat waktu itu terjaga,” kata Bayu. Beragam tumbuhan dan lumbung itu berada dalam satu kompleks perumahan adat Bali seperti yang terlihat pada Ethnobotany Guest House di Kebun Raya Eka Karya Bali. Semula tempat itu untuk konservasi rumah adat Bali, tapi kini fungsinya berubah menjadi penginapan. Meski begitu pengunjung mendapatkan gambaran rumah adat Bali di tempat itu.

Baca juga:  Seronok Mangga Baru

Kini sangat jarang orang yang membangun kompleks rumah adat Bali yang luasnya mencapai sekitar 1.000 m2. Dampaknya masyarakat kesulitan mendapatkan tanaman untuk upacara karena tidak ada halaman memadai. Padahal minimal mereka mesti memberikan persembahan harian berupa daun kelapa muda, daun pisang, bunga, kapur sirih, dan daun pandan yang disebut canang .

Masyarakat memanfaatkan kayu jalma sebagai obat rematik.

Masyarakat memanfaatkan kayu jalma sebagai obat rematik.

Kini kebanyakan masyarakat Bali golongan muda cenderung berpikir praktis. Mereka membeli canang setiap hari, bukan membuatnya sendiri seperti yang dilakukan orang tua dahulu. Ketika upacara adat besar mereka memerlukan lebih banyak tanaman. Kedatangan warga ke Kebun Raya Eka Karya Bali membuktikan hilangnya tanaman upacara di lingkungan sekitar mereka.

Kepala Seksi Pelayanan Jasa dan Informasi, Kebun Raya Eka Karya Bali, Wawan Sujarwo, Ph.D., menyebut fenomena itu sebagai kelangkaan spesies yang pasti terjadi. Pemicunya karena belum berjalannya transfer pengetahuan antara golongan tua dengan kaum muda akibat modernitas dan globalisasi sehingga terjadi erosi budaya. Banyak pemuda desa merantau ke luar kota, bahkan luar negeri.

Akibatnya pengetahuan tanaman upacara adat tidak tersampaikan. Selain itu gaya hidup masyarakat Barat juga mempengaruhi budaya lokal. “Jika tidak segera ditangani pengetahuan tanaman upacara dan obat bisa hilang 20—30 tahun kemudian,” kata Wawan. Itu diperkuat dengan hasil penelitian Wawan dan rekan yang mengungkapkan modernisasi menimbulkan dampak serius terhadap pengetahuan etnobotani tradisional.

Hilangnya kearifan lokal itu juga berdampak pada konservasi keanekaragaman hayati. Untuk mengatasi erosi budaya itu ia menyarankan perlu dibikinnya program budaya seperti promosi dan penggunaan terus-menerus filosofi masyarakat Bali, Tri Hita Karana. Harapannya mendorong masyarakat lokal melestarikan pengetahuan tradisional dan memanfaatkan sumber daya alam Bali dengan bijaksana.

Terdapat sekitar 212 jenis tanaman untuk upacara adat di Taman Panca Yadnya.

Terdapat sekitar 212 jenis tanaman untuk upacara adat di Taman Panca Yadnya.

Selain itu, masuk ke asosiasi pemuda terus-menerus dan komunikasi terbuka antarpemuda dan generasi tua sangat berperan mendorong masyarakat lokal melestarikan pengetahuan etnobotani. Kehadiran Taman Panca Yadnya juga menjadi sarana pembelajaran masyarakat mengenai keanekaragaman tanaman untuk upacara adat kepada generasi muda.

Buah matang purnajiwa yang berwarna hitam bagus untuk penjaga stamina.

Buah matang purnajiwa yang berwarna hitam bagus untuk penjaga stamina.

Direktur Kebun Raya Eka Karya Bali, Dr. Bayu Adjie, "Kebun raya kami sangat kental dengan budaya Bali."

Direktur Kebun Raya Eka Karya Bali, Dr. Bayu Adjie, “Kebun raya kami sangat kental dengan budaya Bali.”

Menurut Dewa pendirian taman seluas 2 hektare itu didasari atas kebutuhan tanaman sebagai sarana upacara makin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk. Keberadaan Taman Panca Yadnya pun sesuai misi Kebun Raya Eka Karya Bali yaitu melestarikan, mendayagunakan, dan mengembangkan potensi tumbuhan, khususnya dari kawasan Indonesia timur, melalui konservasi, penelitian, pendidikan, dan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap kebun raya.

Wawan mengatakan setiap tahun ada pembagian tanaman gratis untuk desa adat, masyarakat, dan kelompok tani. Jenis tanaman beragam seperti majegau Dysoxyllum meliaceae, cemara pandak Dacrycarpus imbricatus, dan manggis-manggisan Garcinia sp. Menurut Bayu Taman Panca Yadnya pembeda Kebun Raya Eka Karya Bali dengan kebun raya lainnya. “Kebun raya kami sangat kental dengan budaya Bali,” kata taksonom alumnus Chiba University, Jepang, itu.

Selain Taman Panca Yadnya, taman tematik lain yang merujuk budaya Bali adalah Taman Usada. Taman yang berjarak sekitar 850 m dari gerbang utama Kebun Raya Eka Karya Bali itu berisi aneka tanaman obat. Budidaya tanaman obat di lahan 2 hektare. Bayu mengatakan tanaman di Taman Usada merupakan terjemahan Lontar Usada dan informasi dari pengobat tradisional Bali (balian).

Baca juga:  lebih lezat Kale di Lidah

Dalam Prosiding Seminar Konservasi Tumbuhan Usada Bali dan Peranannya dalam Mendukung Ekowisata, Mustadi Siregar dan rekan, menyatakan lontar usada manuskrip berisi sistem pengobatan, bahan obat, dan cara pengobatan tradisional di Bali. Pengetahuan dalam Lontar Usada belum sepenuhnya terungkap karena relatif sulit mengidentifikasi jenis tumbuhan usada dalam lontar.

Musababnya penulisan nama tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan menggunakan nama lokal. Padahal, beberapa tumbuhan memiliki lebih dari satu nama lokal. Selain itu tidak adanya spesimen bukti untuk menentukan nama botani yang valid. Bahasa dalam Lontar Usada pun beragam meliputi Bali, Jawa Kuno, Kawi, dan Sansekerta. Jumlah Lontar Usada pun belum diketahui pasti.

Kompleks rumah adat Bali yang kini beralih fungsi menjadi penginapan.

Kompleks rumah adat Bali yang kini beralih fungsi menjadi penginapan.

Sebagian lontar yang dapat diselamatkan tersimpan di berbagai tempat seperti Museum Lontar Gedong Kertya Singaraja, Yayasan Kawi Sastra Mandala Singaraja, Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra, Univeristas Udayana, dan balian. Kendala tersebut memperlambat pengenalan kekayaan tumbuhan usada. Apalagi keberadaan tumbuhan usada di alam mengkhawatirkan, bahkan terancam punah.

Misi Kebun Raya Eka Karya Bali yaitu melestarikan, mendayagunakan, dan mengembangkan potensi tumbuhan dataran tinggi, khususnya dari kawasan Indonesia timur.

Misi Kebun Raya Eka Karya Bali yaitu melestarikan, mendayagunakan, dan mengembangkan potensi tumbuhan dataran tinggi, khususnya dari kawasan Indonesia timur.

Selain menerjemahkan, cara lain menggali informasi Lontar Usada yakni menghimpun informasi lisan penggunaan tumbuhan obat oleh masyarakat Bali di setiap lokasi eksplorasi. Daerah tujuan eksplorasi antara lain Kabupaten Tabanan, Kabupaten Buleleng, Kabupaten Bangli, Kabupaten Karangasem, dan Kabupaten Klungkung. Pembangunan Taman Usada bertahap. Menurut Mustadi pengumpulan tumbuhan usada sejak 1993.

Saat itu eksplorasi tidak khusus mencari tanaman berkhasiat obat, tapi juga tumbuhan lain. Pada 2005 ada eksplorasi khusus tumbuhan usada melalui Kegiatan Kompetitif Pengembangan Taman Usada Koleksi Tumbuhan Obat di Kebun Raya Bali. Bayu mengatakan, kini terdapat 334 jenis tanaman obat di Taman Usada. Saat ini penelitian di taman itu masih sebatas etnobotani dan penambahan koleksi.

Musababnya belum ada peneliti khusus tumbuhan usada. Meski begitu Bayu menerima kerja sama penelitian farmasi atau lainnya. “Kami yang menyediakan tanamannya,” kata pria yang juga Ketua Penggalang Taksonomi Tumbuhan Indonesia (PTTI) itu. Salah satu koleksi Taman Usada adalah purnajiwa Euchresta horsfieldi yang cukup langka.
Menurut anggota staf bidang hubungan masyarakat Kebun Raya Eka Karya Bali, Gede Wawan Setiadi, dahulu kakeknya memanfaatkan buah matang purnajiwa yang berwarna hitam sebagai penjaga stamina. Caranya sang kakek menyangrai buah masak tanaman anggota famili Fabaceae itu dan kopi mentah. Sayang Gede Wawan tidak mengetahui takarannya. Selain itu buah masak purnajiwa berfaedah sebagai obat kuat atau afrodisiak.

Hasil penelitian Wawan Sujarwo Ph.D. dan rekan mengungkapkan modernisasi menimbulkan dampak serius terhadap pengetahuan etnobotani tradisional.

Hasil penelitian Wawan Sujarwo Ph.D. dan rekan mengungkapkan modernisasi menimbulkan dampak serius terhadap pengetahuan etnobotani tradisional.

Koleksi lainnya yaitu kayu jalma Knema cinerea yang bergetah merah seperti darah. Masyarakat mengandalkan tanaman itu untuk mengatasi rematik. Majegau Dysoxyllum meliaceae pun menghuni Taman Usada. Kayu majegau yang kuning dan beraroma dianggap bisa menolak bala. Kayu itu lazim digunakan sebagai bahan pembangun pura. Pulai Alstonia scholaris pun tanaman langka yang lazim dimanfaatkan sebagai jamu penderita malaria.

Keberadaan Taman Usada vital untuk mengumpulkan dan melestarikan tanaman obat terutama yang termaktub dalam Lontar Usada. Kebun Raya Eka Karya Bali memiliki sekitar 10 taman tematik seperti Taman Panca Yadnya dan Taman Usada. Taman tematik lainnya yakni Taman Anggrek, Taman Araceae, Taman Kaktus, dan Taman Begonia. Salah satu koleksi berharga kebun raya yang berulang tahun ke-59 pada 2018 itu yaitu Ginkgo biloba.

Satu-satunya ginkgo yang hidup di Indonesia berada di Kebun Raya Eka Karya Bali. Meski begitu pertumbuhan tanaman introduksi itu tidak maksimal. Ginkgo milik Kebun Raya Eka Karya Bali yang berumur 27 tahun itu hanya setinggi sekitar 1,5 m. Mestinya tingginya bisa lebih dari itu. Harap mafhum ginkgo berasal dari negara 4 musim. Meski begitu tumbuhnya ginkgo di tanah air merupakan prestasi tersendiri.

Tanaman itu berkhasiat obat misalnya ekstrak daun ginkgo bermanfaat untuk kecerdasan. Trubus mengunjungi Kebun Raya Eka Karya Bali pada April 2018 atas undangan LIPI. Peserta kunjungan itu adalah pemenang Anugerah Jurnalistik dan Literasi Sains LIPI 2017 dan wartawan di Pulau Dewata. Bayu menemani peserta menelusuri kebun raya yang menerapkan ISO 9001:2008 itu. (Riefza Vebriasnyah)

583_ 73-2

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *