Bobot domba ekor gemuk jantan bisa mencapai 80 kg dengan perawatan intensif

Bobot domba ekor gemuk jantan bisa mencapai 80 kg dengan perawatan intensif

Perawatan intensif kunci sukses hasilkan domba ekor gemuk berkualitas.

Belasan domba ekor gemuk (DEG) di Peternakan Nusantara, Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, itu bertubuh sehat. Rata-rata bobot domba jantan berumur 1,5 tahun itu 25 kg-30 kg, bahkan beberapa domba berbobot 80 kg. Bobot itu didapat dengan masa pembesaran selama 14 bulan dari domba berumur 4 bulan dan berbobot 20 kg.

Menurut kepala peternakan, drh Laksana Heri Sismanto, penambahan bobot jantan DEG rata-rata 150-200 g per hari. Di peternakan lain, kebanyakan DEG berumur 1,5 tahun berbobot maksimal 20 kg dengan perawatan sama.

Kandang dirancang agar mudah dibersihkan

Kandang dirancang agar mudah dibersihkan

Perawatan intensif

Apa rahasia penambahan bobot DEG di Peternakan Nusantara lebih tinggi ketimbang domba di peternakan lain? “Kami merawat domba secara intensif dengan pola pakan yang bagus serta bibit unggul dari hasil seleksi,” kata Direktur Utama Peternakan Nusantara, E V Heru Prasanta Wijaya. Menurut peneliti di Balai Penelitian Ternak, Bogor, Jawa Barat, Ir Bambang Setiadi MS, bibit domba unggul dilihat dari sosoknya.

“Pilih domba yang paling besar di antara domba lain yang seumuran,” kata Bambang. Selain itu pakan juga penting untuk meningkatkan bobot tubuh domba. Heru hanya memberikan pakan hijauan tanpa konsentrat karena alami dan lebih sehat. Bambang mengatakan pemberian pakan berupa hijauan saja tidak masalah. “Lebih baik jika hijauannya bervariasi,” kata alumnus Jurusan Ilmu Ternak Institut Pertanian Bogor itu.

Oleh karena itu, Heru menanam 21 jenis hijauan berupa rumput di lahan 10 ha untuk memenuhi kebutuhan gizi ternak. Setiap hijauan memiliki kandungan nutrisi tersendiri. Misal untuk mendapat pasokan karbohidrat Heru mengandalkan rumput odot, sedangkan kebutuhan protein berasal dari rumput raja.

Nutrisi pakan hijauan berbeda- beda sehingga pemberiannya harus bervariasi

Nutrisi pakan hijauan berbeda- beda sehingga pemberiannya harus bervariasi

Heru memberikan pakan hijauan 2 kali sehari pada pagi dan sore. Setiap ternak mengonsumsi 10-15% pakan hijauan dari bobot tubuh. Jadi domba berumur 30 kg mengonsumsi 3-4,5 kg pakan hijauan.

Baca juga:  Api dari Jatoba

Selain itu, ternak juga mendapat pakan penguat berupa sumber serat non rumput seperti bungkil kelapa sawit sebanyak 2-3% dari bobot tubuh. Pemberian pakan penguat sebelum pakan hijauan bertujuan meningkatkan jumlah protein pakan sehingga sesuai dengan kebutuhan ternak. Untuk DEG jantan petugas memberikan suplemen racikan sendiri.

Pejantan unggul

Suplemen berguna meningkatkan kualitas semen dan performa ternak. Sebab ternak yang mendapat asupan suplemen diharapkan menjadi pejantan unggul. Harap mafhum saat ini fokus utama peternakan seluas 4 ha itu yaitu menghasilkan indukan berkualitas. Agar perawatan ternak lebih mudah dan teratur pengelola menyediakan 5 kandang dengan fungsi berbeda.

Kelima kandang itu meliputi kandang panggung, umbaran, kawin, baterai, dan karantina. Kandang panggung hunian tetap ternak. Di tempat itu ternak mendapat pakan dan minum. Penggunaan kandang panggung bukan tanpa alasan. Menurut Heru kandang panggung mudah dibersihkan dari kotoran ternak.

Di Peternakan Nusantara DEG hanya mengonsumsi pakan hijauan

Di Peternakan Nusantara DEG hanya mengonsumsi pakan hijauan

Apalagi bentuk kandang panggung di peternakan itu agak miring sehingga kotoran berupa padatan dan cairan langsung meluncur ke bawah dan masuk ke wadah yang tersedia.

“Kebersihan kandang yang terjaga mengurangi kadar amonia sehingga ternak lebih sehat,” kata Heru. Sementara kandang karantina berisi DEG yang sakit. “Petugas memisahkan ternak sakit ke kandang karantina sehingga tidak terjadi penularan penyakit ke ternak lain,” kata Heru.

Menurut F F Munier dan rekan dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Tengah pemeliharaan domba secara intensif dapat memperbaiki pertambahan bobot badan harian. Sebab pemberian pakan dasar dan pakan tambahan cukup sesuai kebutuhan ternak. Selain itu, karena di dalam kandang, domba dapat menghemat energi dan produksi daging maksimal.

E V Heru Prasanta Wijaya mengembangkan DEG sejak 2010

E V Heru Prasanta Wijaya mengembangkan DEG sejak 2010

Asli Indonesia

Baca juga:  Menabung Air Dalam Embung

Menurut Heru DEG disebut juga domba sapudi karena karena banyak dibudidayakan di Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor 2389/Kpts/LB.430/8/2012 domba sapudi salah satu rumpun domba lokal Indonesia yang mempunyai sebaran asli geografis di Provinsi Jawa Timur dan dibudidayakan turun-temurun.

Domba sapudi berasal dari Asia barat daya yang dibawa pedagang Gujarat pada abad ke-18 ke daerah Lamongan, Pulau Madura, dan sampai di Pulau Sapudi. Selanjutnya masyarakat mengembangkan domba itu hingga sekarang. Ruminansia kecil tidak bertanduk itu tipe domba penghasil daging dengan persentase karkas 52%. Keunggulan domba sapudi yaitu adaptif di kondisi lingkungan yang panas dan kering.

Sebab, “Domba ekor gemuk berambut bukan wol sehingga aliran udara di tubuh relatif lancar,” kata Bambang. Ia juga mengatakan DEG juga adaptif di lingkungan yang minim pakan karena memiliki ekor yang besar. DEG memanfaatkan cadangan nutrisi di ekor saat pasokan pakan sedikit. Ekor domba itu akan mengecil jika nutrisi di dalamnya tersisa sedikit. (Riefza Vebriansyah/Peliput: Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d