Aeroponik Bertemu Vertikultur 1
Pipa gantung menghemat lahan hingga 25 kali lipat

Pipa gantung menghemat lahan hingga 25 kali lipat

Perpaduan aeroponik dan vertikutur mutakhir. Teknologi itu tanpa listrik.

Seratus empat puluh pipa putih bersih itu berjajar rapi. Diameter pipa 17 cm dan panjang 3,65 m. Ratusan pipa menggantung dari langit-langit greenhouse. Ujung bagian bawah pipa tak menyentuh permukaan tanah, sekitar 10 cm di atas lantai greenhouse seluas 280 m2. Sebuah tutup menyerupai corong menyambung ujung pipa ke tandon air di bawah lantai alias groundtank. Di sekujur pipa tampak selada boston yang hijau segar tumbuh.

Itulah panorama greenhouse untuk budidaya hidroponik di di Philadelphia, negara bagian Pennsylvania, Amerika Serikat. Frank Fendler yang mengelola greenhouse itu mengatakan kepada Trubus,  “Kami memilih pipa berstandar food grade alias plastik yang aman untuk makanan.” Setiap pipa terdiri atas  64 tanaman yang dibudidayakan secara aeroponik. Secara harfiah, aeroponik berarti bercocok tanam di udara. Pada aeroponik, akar tumbuh di udara tanpa media tanam. Pemberian nutrisi dengan menyemprotkan larutan hara secara berkala.

Frank Fendler (berkaus ungu) bersama redaksi Trubus Sardi Duryatmo dan Argohartono

Frank Fendler (berkaus ungu) bersama redaksi Trubus Sardi
Duryatmo dan Argohartono

Suhu stabil

Frank memodifikasi teknik aeroponik untuk menanam sayuran daun. Ia tak menerapkan teknik budidaya aeroponik seperti pada umumnya, yaitu menyemprotkan larutan nutrisi dari bawah ke akar tanaman. Di greenhouse itu nutrisi mengalir dari pipa di atas talang dengan interval 6 menit. Setelah itu, pasokan air terhenti selama 30 menit, begitu seterusnya. Tanaman menyerap larutan nutrisi yang jatuh dan mengenai akar. Gaya gravitasi memperkaya kandungan oksigen dalam air.

Di ujung pipa ada saluran yang mengalirkan air menuju tangki bawah tanah. Frank sengaja meletakkan tangki di bawah tanah untuk mendinginkan larutan nutrisi. “Suhu air terjaga pada 120C,” ujar Frank. Meski tinggi pipa tanam mencapai 3,65 m, pekerja yang memanen tak perlu memanjat. Mereka tinggal mencopot pipa tanam lalu mengirim ke bagian pengemasan. Di sana, petugas langsung mengemas selada berbobot 250 g per pak. Berikutnya, pekerja mencuci bersih pipa tanam sebelum memasang untuk penanaman kembali.

Baca juga:  Laba Setiap 15 Hari

Selain mengelola greenhouse total 929 m2, Frank juga menjadi konsultan teknologi budidaya nirtanah bagi Suku Amish di Amerika Serikat. Frank mengatakan, Suku Amish yang hidup sederhana itu mulai beraeroponik dalam greenhouse pada 2010. Sederhana? Mereka menolak perubahan dan pola hidup modern. Penerangan di rumah hanya lampu dari minyak tanah. Mereka biasa menjalani aktivitas sehari-hari tanpa televisi, radio, telepon, atau perangkat elektronik, maupun telekomunikasi. Untuk memasak, mereka menghindari kompor gas atau kompor listrik, melainkan tungku kayu bakar. Tungku itu juga berguna sebagai penghangat saat malam.

Nutrisi Mengalir Jauh

Nutrisi Mengalir Jauh

Suku yang datang ke benua Amerika pada abad ke-18 itu berprofesi sebagai petani. Mereka mengolah kebun untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Teknologi greenhouse pun berhasil diterapkan berkat Frank berteman dengan Sam, anggota Suku Amish. “Butuh waktu lama untuk meyakinkan Sam bahwa dia bisa menanam di greenhouse secanggih itu,” ujar Frank dalam wawancara dengan para wartawan Trubus pada sebuah siang Desember 2013.

Komputerisasi

Frank mengontrol iklim di dalam greenhouse dengan komputer. “Semua terukur, mulai dari suhu, kelembapan, nutrisi, hingga panen,” ujarnya. Menurut Frank, Suku Amish sangat cepat beradaptasi dengan teknik aeroponik itu. Pasalnya, greenhouse itu juga nirlistrik. “Kebutuhan listrik terpenuhi dari panel surya yang terpasang di atap,” ujar Frank.

Atap greenhouse bisa membuka dan menutup sesuai suhu di dalam. Di bawah atap terdapat jaring penaung yang juga bisa dibuka tutup. Pada musim panas, jaring penaung selalu tertutup. Adapun pada musim dingin, jaring terbuka pada pukul 06.00—16.30. Tujuannya untuk memerangkap sinar matahari. Pada malam hari, shading greenhouse menutup sehingga sinar matahari yang terperangkap memantul kembali ke tanaman.

Aliran nutrisi

Aliran nutrisi

“Sistem itu memungkinkan kami panen 6—8 kali per tahun,” ujar Frank. Pada musim panas, Frank memanen selada saat 4 minggu setelah tanam. Namun, waktu panen musim dingin lebih lama 2—3 pekan dibanding musim panas. Harga jual selada aeroponik mencapai 2,99 dolar atau sekitar Rp36.000 per kg. Frank mengatakan bahwa masalah besar beraroponik di Philadephia adalah soal rasa. Citarasa sayuran saat musim panas berbeda dengan sayuran hasil budidaya saat musim dingin. (Kartika Restu Susilo)

Baca juga:  Selamatkan Anggrek Tien Soeharto

FOTO:

  1. Frank Fendler  (berkaus ungu)bersama redaksi Trubus Sardi Duryatmo dan Argohartono
  2. Pipa gantung menghemat lahan hingga 25 kali lipat

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *