Adu Domba Atasi Gayas 1
Larva kumbung yang terinfeksi nematoda

Larva kumbung yang terinfeksi nematoda

Hama gayas menyebabkan produksi tebu anjlok 50%. Solusinya adu domba dengan nematoda.

Umur kumbang ampai Lepidiota stigma sejak uret hingga dewasa sejatinya relatif singkat, hanya 12 bulan. Namun, ulahnya membuat para pekebun tebu gigit jari. Saat menjadi uret ia paling senang menggerogoti akar sehingga tanaman tiba-tiba kering atau rebah. Akibat serangan gayas alias uret kumbang ampai produksi tebu anjlok hingga 50%. Gayas bersembunyi di bawah permukaan tanah hingga kedalaman 10 meter. Harap mafhum larva itu memang paling tak tahan sinar matahari. Terkena pancaran sinar surya lebih dari 5 menit menyebabkan tubuhnya menghitam dan meregang nyawa.

Celakanya kumbang ampai bersifat polifagus atau begitu banyak tanaman inang. Selain tebu, tanaman inang yang bisa jadi sumber pakan gayas antara lain jagung, karet, kopi,dan singkong. Salah satu cara mutakhir yang mujarab untuk mengatasi serangan gayas adalah pemanfaatan musuh alami berupa nematoda entomopatogen Steinernema spp sebagaimana riset Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya.

Tebu salah satu tanaman yang disukai gayas

Tebu salah satu tanaman yang disukai gayas

Teruji
Nematoda entomopatogen—pinjaman bahasa Yunani: entomon bermakna serangga, patogen berarti menyebabkan penyakit—sejatinya parasit serangga di dalam tanah. Itulah sebabnya nematoda entomopatogen disebut endoparasitik. Untuk menguji keampuhan Steinernema spp dilakukan uji lapang di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Saat uji lapang itu para petani setempat membudidayakan tebu varietas BR-642 berumur 2 bulan.

Para periset dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya memastikan lahan uji bebas serangan gayas L. stigma. Tujuannya untuk mengetahui jumlah larva gayas yang mati akibat infeksi nematoda anggota famili Steinernematidae itu. Metode uji dengan menginfestasikan larva L. stigma di setiap tanaman uji. Para periset memberikan dua larva L. stigma instar 3 di setiap rumpun tebu. Mereka meletakkan larva di sebuah lubang sedalam 5–10 cm di sisi tanaman. Tujuannya agar larva segera menemukan akar tebu sumber makanannya.

Baca juga:  Hasilkan MDH Kelas A

Dengan demikian jika larva mati bukan karena tidak menemukan makanan. Setelah itu kemudian lubang ditimbun dengan tanah secara perlahan agar larva tetap hidup. Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya memperoleh nematoda entomopatogen dari lahan di Tulungagung, Provinsi Jawa Timur. Para periset lantas membuat suspensi nematoda. Periset memasukkan spon berisi nematoda ke dalam air, meremas-remas perlahan agar nematoda lepas dari spon dan masuk dalam air.

Uret kumbang gayas bersifat polifagus

Uret kumbang gayas bersifat polifagus

Pemberian nematoda dengan mengocorkan suspensi nematoda di atas permukaan tanah pada sisi tanaman tebu yang telah diinfestasi gayas. Dosis pemberian nematoda 12.500 IJ per tanaman. Pada hari kedua atau 48 jam kemudian, banyak hama gayas yang mati. Nematoda melakukan penetrasi melalui lubang alami seperti mulut, anus, dan spirakel di tubuh uret. Nematoda juga merasuk langsung dalam kutikula hama.

Turun drastis
Sejatinya bukan nematoda yang berperan “mengeksekusi” gayas. Setelah sukses memasuki tubuh inang, nematoda melepaskan bakteri simbionnya ke haemolimpe alias cairan transparan pengangkut hormon, nutrisi, dan oksigen uret gayas. Akibatnya bakteri berkembang dan membunuh inang hanya dalam 24—48 jam. Larva L. stigma memang inang utama nematoda Steinernema spp. Nematoda jantan dan betina masuk ke tubuh serangga inang juga untuk bereproduksi. Nematoda itu meninggalkan induknya menjelang dewasa.

Jika kebutuhan nutrisi terpenuhi dari inang, kematian uret yang menjadi inang amat cepat. Pada hari ke-21 pengamatan, populasi hama gayas turun amat signifikan, yakni 97,5%. Adapun larva gayas yang mati mencapai 80%. Para periset membuka tanah di sekitar perakaran tebu untuk mengetahui kondisi larva gayas. Tubuh uret hama itu tidak bergerak dan kaku. Di bagian kutikula atau lapisan terluar uret gayas berubah menjadi kecokelatan. Kematian uret itu karena bakteri mengeluarkan toksin.

Kumbang gayas dewasa siap bereproduksi

Kumbang gayas dewasa siap bereproduksi

Selain itu struktur jaringan tubuh larva menjadi lunak. Padahal, bentuk tubuh larva tetap utuh dan tidak berbau busuk. Pemanfaatan nematoda entomopatogen sangat ampuh mengendalikan serangan hama gayas yang meresahkan pekebun tebu. Gaya penjajah—politik devide et impera alias adu domba—itu terbukti efektif. Selain itu pemanfaatannya juga ramah lingkungan dan relatif murah. Petani hanya memerlukan 20 spon untuk mengendalikan hama di lahan 1 ha.

Baca juga:  Pergantian Kepala Seameo Biotrop

Pekebun tebu juga dapat mengombinasikan dengan strategi lain seperti pemberian 5 gram mikoriza per bibit tebu. Dengan demikian mikoriza mendukung kesehatan tanaman penghasil gula sekaligus membantu penyerapan air pada tebu terutama di lahan kering. Pengendalian biologis lain dengan musuh alami dari golongan cendawan Beauveria bassiana, Metarhizium anisopliae, Spicaria sp, dan Fusarium nygamai. Dosisnya hanya 10 kg per ha.

Nematoda memerlukan inang untuk berkembangbiak

Nematoda memerlukan inang untuk berkembangbiak

Pilihan lain petani dapat mencampurkan agen hayati itu itu dengan kompos. Pengendalian mekanis dengan menangkap dan membunuh hama secara langsung. Itu untuk mengendalikan kumbang ampai dewasa. Caranya dengan jebakan lampu karena kumbang dewasa tertarik pada nyala lampu. Di bawah sinar lampu berikan baskom berisi air. Kumbang akan menghampiri lampu lalu jatuh di baskom. Tamat sudah riwayat gayas. (Ir Achmad Sarjana MSi, Kepala Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan Surabaya)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments