Lahan kencur yang dikelola Adi Pramudya di Jonggol, Bogor, Jawa Barat.

Lahan kencur yang dikelola Adi Pramudya di Jonggol, Bogor, Jawa Barat.

Niat berbisnis agar Adi Pramudya mampu membiayai sekolahnya. Kini ia menjadi juragan rempah beromzet ratusan juta rupiah.

Adi Pramudya memutuskan untuk membudidayakan lengkuas setelah gagal berbisnis pisang cokelat. Alasannya sederhana harga jual lengkuas relatif tinggi dan pasokan terbatas. “Rempah-rempah memang sepele, tapi sangat dibutuhkan rumah tangga dan industri kuliner,” ujar pemuda 23 tahun itu. Adi pun membudidayakan lengkuas yang menghabiskan dana Rp15-juta per setengah ha.

Biaya produksi itu berasal dari laba berkebun singkong pada periode sebelumnya. Ia menanam lengkuas di lahan sewa di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Delapan bulan kemudian, ia panen 15 ton rimpang Alpinia galanga. Dengan harga jual Rp5.000 per kg, omzetnya Rp75-juta dalam waktu 8 bulan atau rata-rata Rp9-juta sebulan. Itulah sebabnya Adi kian bergairah mengebunkan lengkuas.

Adi Pramudya sukses berbisnis rempah-rempah.

Adi Pramudya sukses berbisnis rempah-rempah.

Memperluas lahan
Selain lengkuas, Adi juga menanam kencur dan kunyit. “Lama budidaya lengkuas, kencur, dan kunyit nyaris sama,” ujarnya. Adi Pramudya kemudian memperluas lahan sewa menjadi 11,5 ha untuk berkebun lengkuas (9,5 ha), kunyit (1 ha), dan kencur (1 ha). Saat panen pemuda kelahiran Pati, Provinsi Jawa Tengah, itu memperoleh 285 ton lengkuas, 20 ton kunyit, dan 20 ton kencur.

Adi tak kesulitan memasarkan rimpang tanaman anggota famili Zingiberaceae itu. Para pengepul datang langsung ke lokasi budidaya dan membayar tunai. Pada 2014 harga jual lengkuas di tingkat petani Rp2.500, kunyit Rp2.000, dan kencur Rp10.000—semua harga per kg, sehingga total pendapatannya Rp952,5-juta. Berkat kesuksesan itu, Adi menjuarai kompetisi wirausaha tingkat Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi dari Bank Indonesia pada 2014.

Baca juga:  Satu Pot Tiga Rempah

Pada tahun yang sama pula, ia menyabet juara pertama wirausaha muda berprestasi tingkat nasional yang digelar oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Adi semakin mengukuhkan diri sebagai pebisnis rempah ulung setelah berhasil mengekspor 100 kg jahe dan 100 kg kencur ke Belanda dan Jerman pada 2014. Kini ia mengelola 30 ha lahan dan mempekerjakan 100 orang buruh lepas dan 5 mandor.

Yang membanggakan, 30% dari total lahan itu sudah menjadi milik pribadi, sisanya masih sewa. Kisah sukses Adi Pramudya bermula hasrat meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi. Sejatinya impian itu di pelupuk mata karena Adi Pramudya mendapatkan beasiswa dari sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung, Provinsi Jawa Barat, pada lima tahun silam. Syangnya, “Beasiswa itu hanya mencukupi biaya pendidikan,” ujarnya.

Adi (berjongkok dan berjaket merah) bersama para karyawati.

Adi (berjongkok dan berjaket merah) bersama para karyawati.

Kedua orang tua Adi yang hidup pas-pasan keberatan membiayai kehidupan Adi di Bandung. Adi akhirnya menolak beasiswa itu. Pemuda kelahiran 16 April 1992 itu lantas membulatkan tekad meninggalkan kampung halaman di Pati, Jawa Tengah, dan merantau ke Jakarta. Di sana ia menumpang di rumah kakaknya dan berniat untuk berwirausaha. Adi menjajal kemampuan berbisnis dengan berdagang pisang cokelat di Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Kandas
Dengan modal awal Rp2,5-juta dari sang kakak, Adi Pramudya membeli gerobak, perlengkapan masak, dan bahan baku. Sambil berjualan Adi menempuh pendidikan sarjana di Jurusan Teknik Industri, Universitas Gundarma, Depok, Jawa Barat. “Pagi hingga sore untuk kuliah, sedangkan malam untuk mencari rezeki,” ujar Adi. Saban hari, ia bisa memperoleh laba bersih Rp200.000 setara Rp6-juta sebulan. Ia menggunakan keuntungan berjualan pisang cokelat itu membiayai kuliah.

Baca juga:  Rumput Gajah Cegah Gulma

Namun, perniagaan perdana itu kandas setelah setahun. Padahal, Adi sudah melebarkan sayap dengan membuka cabang dan mempekerjakan karyawan. “Jadwal kuliah sangat padat jadi kesulitan mengontrol kedisiplinan karyawan dan aliran uang,” ujar pria 23 tahun itu. Pengalaman pahit itu sempat membuat depresi. Pasalnya, satu-satunya sumber uang untuk membayar kuliah tertutup.

Penyuka nasi gandul—masakan khas Pati—itu lalu berjualan segala macam produk seperti detergen, madu, dan jus buah agar kuliah tetap lancar. Ia sempat membuka lapak jus buah di stasiun kereta api Tanjungbarat, Jakarta Selatan, selama 4 bulan. Namun, lapak sederhana itu terpaksa bubar karena tidak memiliki izin usaha. Pada awal 2012, sang kakak mengajak Adi mengunjungi kebun singkong di Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, milik kerabat.

Rimpang jahe siap jual.

Rimpang jahe siap jual.

Sepanjang perjalanan, ia heran melihat belasan hektar lahan yang terbengkalai. Padahal, tingkat kesuburannya tinggi dan berpotensi mendatangkan rupiah bila diolah intensif. Seketika itu ia tergoda untuk melakoni bisnis pertanian di sana. “Selama manusia butuh makanan, bisnis pertanian tak akan usang,” ujarnya optimis. Adi memilih budidaya singkong sebagai langkah awal. Harga sewa sehektar tanah cukup murah, hanya Rp3-juta per tahun.

Ia nekat menguras seluruh isi tabungan untuk menyewa tanah, membeli bibit, dan peralatan pertanian. Beruntung, ia memiliki mitra terpercaya yakni seorang pekebun setempat yang membantunya merawat kebun singkong miliknya. Ketika panen, ia memperoleh 12 ton singkong kupas. Sayang, harga jual saat itu sangat rendah, cuma Rp950 per kg. Itu sebabnya pendapatan yang diperoleh sangat minim yakni Rp11,4-juta.

Baca juga:  Euphorbia Baru: Daun Molek yang Menyihir

Menurut Adi, “Ketidakstabilan harga memang kerap membuat pekebun rugi.” Namun, itu tidak menjadi alasan bagi Adi untuk mundur. Malahan, ia semakin bergairah menekuni bisnis pertanian, yakni menanam beragam rempah-rempah. Dari sanalah rupiah mengalir deras sehingga Adi Pramudya mampu mewujudkan hasratnya meneruskan pendidikan di perguruan tinggi. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d