Kerang abalon anggota famili Haliotidae hidup di sekitar terumbu karang

Kerang abalon anggota famili Haliotidae hidup di sekitar terumbu karang

Meskipun fanatik nasi pecel, ada baiknya mencicipi kerang abalon. Sepupu tercinta saya  gembira ketika tahu abalon bisa menolong nelayan miskin.  Pasalnya ia suka melahapnya di restoran-restoran termewah dunia.  Boleh dicatat: di Senayan, Jakarta Pusat, kerang abalon dibanderol Rp1,5-juta seporsi.  Sementara di Selandia Baru, abalon jenis khusus malah melebihi seribu dolar per ekor!

Padahal,  “Pantai Garut kaya abalon, Harganya Rp1-juta per kilogram,” tulis wartawan M Syarif Abdussalam dari Tribunews.Com.  Para anggota Kelompok Nelayan Sawargi di Desa Cigadog, Kecamatan Cikelet, Kabupaten Garut, mendapat 10 kilogram abalon per hari. Sekretaris kelompok itu, Sobri, mengatakan harga abalon basah Rp110.000 per kilogram. Jika dikeringkan dengan cara dibersihkan dan dilepas dari cangkangnya, harganya menjadi Rp300.000.  Setelah pengeringan selama 10 hari, harganya melonjak menjadi Rp1-juta per kg.

Budidaya
Itulah yang menggerakkan nelayan di Garut, khususnya di Pantai Manalusu untuk mengekspor abalon sampai ke Hongkong, Jepang, negara-negara di Eropa, dan Amerika selatan. Sekarang kita paham mengapa masa depan bangsa bahari memang berada di laut. Laut adalah sumber pangan, sumber energi, kesehatan, dan kekayaan. Kita mengerti mengapa Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, suka mengemudikan pesawat sendiri dari Pangandaran.

Seorang teman melapor, dengan membawa beberapa kilogram lobster saja, biaya operasi pesawat sudah terbayar.  Di pantai selatan Jawa Barat, satu kilogram lobster harganya Rp800.000. Kalau ada 20 kg di pesawat kecil itu, sudah Rp16-juta. Abalon dan lobster termasuk produk premium agromaritim. Mereka sering disandingkan dengan sarang burung walet, sup sirip ikan hiu, dan “delicacy” lainnya.

Sumber pangan bergizi dan bergengsi. Harga nya Rp1-juta per kg

Sumber pangan bergizi dan bergengsi. Harga nya Rp1-juta per kg

Memang ada yang perburuannya membahayakan kelestarian alam. Namun, cara-cara untuk budidaya abalon sudah disebarluaskan. Untuk mendapatkan abalon pun, berbeda dengan memburu satwa langka di lautan. Sudah beberapa kali lembaga pendanaan suaka margasatwa, WWF mengadakan lokakarya budidaya abalon yang bertanggung jawab. Pasalnya, jenis kerang yang senang hidup di dasar laut itu rentan pada pencemaran. Abalon hanya memiliki satu cangkang, gerakannya superlamban dan mudah disantap oleh predator laut lain.

“Kita harus  menjaga kejernihan laut, tidak merusak terumbu karang, dan memelihara rumput laut untuk makanan abalon itu,” seru sahabat karib saya dalam facebooknya.  Pengusaha sumberdaya manusia itu percaya setiap kali menyantap abalon, statusnya makin membaik.

Baca juga:  Kabar Menang Durian Radio

Menikmati abalon dengan rajin memang diperlukan untuk meningkatkan gengsi. “Padahal, khasiat utamanya adalah untuk mempertahankan stamina,” pesan Hyanto Wihadhi, direktur utama pengembang kawasan wisata pantai terkemuka di Banten.   Penyuka sup abalon itu yakin, budidaya kerang abalon meningkatkan pendapatan nelayan.

Telinga laut
Kerang abalon dikenal sebagai telinga laut. Bentuk cangkangnya mirip kuping. Nelayan pantai Manalusu di Garut selatan menangkapnya dengan cara menyelam ke karang dasar laut pada malam hari. Biasanya, abalon bersembunyi di celah karang dan terumbu karang. Cangkang dalamnya putih mengilap, sedangkan luarnya menyerupai batu tempatnya menempel. Abalon termasuk hewan nokturnal, aktif pada malam hari, herbivora—pemakan tumbuhan dan aktif makan pada suasana gelap.

Hewan itu menyukai alga merah, alga cokelat, dan alga hijau termasuk rumput laut. Mungkin karena sukar dicari, warga Tiongkok meyakini abalon sebagai makanan keberuntungan. Bangsa penggemar abalon lainnya adalah Korea dan Jepang.  Biasanya dimasak sebagai sup, disteam, dioseng. dibuat bubur, atau dimakan mentah sebagai sashimi. Di perairan Bali, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mulai menggalakkan budidaya dan membuka stasiun riset khusus untuk kerang abalon.

Lebih separuh dari 70 macam abalon yang dikonsumsi dunia terdapat di Indonesia dan Filipina. Di Indonesia paling banyak terdapat di perairan Nusa Tenggara Barat, khususnya Pulau Lombok, Flores, dan Sulawesi. Sudah setahun ini Kendari, Sulawesi Tenggara, bahkan bertekad menjadi Kota Abalon.  “Anda belum pernah datang ke Kendari sebelum menyantap kerang abalon,” kata Ir. Arsun, walikotanya.

Genap setahun silam, Januari 2014, ia sudah meresmikan keramba abalon pertama di Kendari.  Bersama pusat penelitian abalon di Universitas Haluoleo dan  belasan koperasi nelayan, Dinas Kelautan pun bertekad menjadikan abalon sebagai ikon kota Kendari. Tantangan kita tentu bagaimana mempromosikan kerang abalon Haliotis asinina. Dari 40 teman yang saya tanya, hanya dua yang betul-betul penggemar abalon. Itu pun sepupu tercinta yang suka nangkring di Chrystal Jade atau Ah Yat Abalone di Mangga Dua, Jakarta. Itulah dua restoran papan atas itu termasuk sering menjadi berita karena lezatnya abalon yang disajikan.

Eka Budianta

Eka Budianta

Akuarium abalon
Daging abalone mempunyai gizi yang cukup tinggi dengan kandungan protein 71,99%, lemak 3,20%, serat 5,60%, abu 11,11%, dan kadar air 0,60%.  Manfaat lainnya, cangkang abalon dapat dipakai perhiasan, pembuatan kancing baju dan berbagai bentuk barang kerajinan. Oleh karena itu, panduan untuk budidaya abalon sudah banyak beredar. Di antaranya berasal dari seminar akuakultur di Bali akhir 2014.

Baca juga:  Terbang Tinggi dan Kembali

Secara alamiah kerang abalon berkembang subur di perairan dangkal, kurang dari 10 merter dengan kejernihan prima. Selama ini abalone farming didominasi oleh Jepang, Amerika Serikat (California), Selandia Baru, dan Afrika Selatan.  Namun, Australia, bahkan Eropa termasuk Irlandia pun sudah mulai ikut berpacu. Pembenihan abalon dimulai dengan pematangan calon-calon induk berukuran panjang 7—10 cm di dalam tangki serat kaca atau bak semen. Wadah berukuran 11 ton.

Selama pemeliharaan yang berlangsung 6 bulan, abalon diberi pakan rumput laut Gracillaria sp. sebanyak 10% bobot abalon. Daya sintasan hidupnya (survival rate) bisa mencapai 90%. Pertumbuhannya dari bobot awal 1,39 g  dengan panjang cangkang 18 mm hingga 8,40 gram dengan cangkang 32 mm. Ketika cangkang mencapai 5 mm, abalon dipindahkan ke dalam bak berukuran 1.000 liter. Pada awal proses pembesaran, abalon diberi pakan mikroalga yang menempel di lembaran plastik.

Secara bertahap pakan diganti dengan jenis Gracilaria sp. dan Acantophora sp. Selain itu, diterapkan sistem air mengalir dengan laju pergantian air sebesar 400% setiap 24 jam. Menurut para ahli di Lembaga Ilmu Pengetahuan, kendala yang dihadapi adalah masa pemeliharaan yang cukup lama. Untuk H. squamata dibutuhkan sekitar 8 bulan sejak ukuran benih 2,5 cm sampai mencapai ukuran konsumsi sekitar 6—7 cm. Jadi, kita perlu berbisik-bisik agar para nelayan tetap tekun dan berjuang untuk memegang “Kartu Indonesia Sabar”.

WWF-Indonesia menyusun panduan budidaya abalon skala kecil maupun menengah yang dilakukan dapat dipertanggungjawabkan dan ramah lingkungan.  Sayangnya selama ini kerang abalone di Plaza Indonesia dan di Plaza Senayan masih diimpor dari Jepang, Meksiko, dan Afrika Selatan.  Inilah tantangan yang perlu digarap oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, selain menenggelamkan kapal-kapal asing pencuri ikan. (Eka Budianta*)

*) Kolumnis Trubus sejak 2001, pengurus Tirto Utomo Foundation dan CEO untuk konservasi flora-fauna di Tanjunglesung.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d