Aang Permana AP: Uang dari Ikan Terbuang 1
Aang Permana AP meningkatkan nilai ekonomi ikan petek dengan mengolahnya menjadi produk ikan krispi.

Aang Permana AP meningkatkan nilai ekonomi ikan petek dengan mengolahnya menjadi produk ikan krispi.

Aang Permana AP ingat betul pertemuan pertama di Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada 2012. Bukan  lanskap danau yang membuatnya terkesima, tetapi ratusan karung berisi ikan-ikan kecil yang tergeletak di
perahuperahu nelayan. Penduduk setempat menyebutnya petek (kedua huruf e dibaca keras seperti pada kata kemah)  lantaran bersosok mirip ikan petek Leiognatus equulus di perairan lepas.

Nelayan menyingkirkan ikan berukuran 2—3 cm itu sebab hama bagi ikan mas. “Kumpulan petek di keramba jaring apung  membuat kompetisi pakan semakin tinggi,” ujar Aang. Belasan ton petek itu terbuang percuma atau dimanfaatkan sebagai pakan bebek dan ikan. Penduduk jarang mengonsumsi sebab ikan berbau amis. Padahal, bila mampu memasak  dengan benar, citarasanya nikmat.

Aang Permana (duduk ketiga dari kiri) bersama sebagian karyawannya yang mengolah ikan petek.

Aang Permana (duduk ketiga dari kiri) bersama sebagian karyawannya yang mengolah ikan petek.

Coba-coba 3 bulan
Aang menyayangkan bila ikan berduri lunak itu berakhir di penampungan atau pakan. Itulah sebabnya, pria kelahiran 15 Juni 1990 itu tergelitik untuk memanfaatkan si petek. Ia menuturkan sebagian masyarakat menghindari untuk mengonsumsi ikan lantaran enggan berurusan dengan duri. “Petek bisa menjadi solusi sebab mudah dinikmati,” ujarnya.

Dengan modal awal Rp500.000 untuk membeli perlengkapan masak dan produksi, anak pertama dari dua bersaudara itu memulai membuat olahan petek krispi. “Ukurannya kecil cocok sebagai camilan saat santai atau  disantap bersama nasi,” ujar anak muda berusia 25 tahun itu. Namun, ia belum mampu menghilangkan bau amis sehingga nyali untuk menjual petek krispi masih tipis.

Aang butuh 3 bulan untuk menemukan teknik dan komposisi bumbu yang tepat untuk mengatasi bau amis dan meningkatkan citarasa. Kepercayaan dirinya muncul setelah menemukan racikan bumbu yang pas. Aang menjual produk petek renyah dalam dua varian rasa yakni orijinal dan pedas. Ia menawarkan olahan petek itu kepada teman dan dosennya di Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Produk ikan petek krispi.

Produk ikan petek krispi.

Ia berhasil menjual 35 bungkus olahan petek setiap hari. Harga setiap bungkus berbobot 50 gram hanya Rp2.500. Dari hasil penjualan di kampus, ia memperoleh pendapatan Rp87.500 per hari setara Rp2,6-juta sebulan. Berkaca dari sambutan hangat konsumen di kampus, Aang memberanikan diri memperluas pasar. Ia menyasar toko buah tangan di sepanjang jalan raya Pasteur, Kota Bandung, Cipanas (Kabupaten Cianjur), dan Ciawi (Kabupaten Bogor)—semua di Provinsi Jawa Barat.

Baca juga:  Makmur Karena Jamur

Anak muda itu mengemas penganan lezat itu dalam plastik berukuran 200 gram dan membanderol Rp15.000. Terhitung ada 30 toko yang bersedia menampung produknya. Namun, setiap toko hanya mau menerima 10 bungkus. Itu pun hanya 1—2 bungkus yang laku. “Pemilik toko mengaku produk ikan masih jarang sehingga konsumen kurang tertarik,” ujarnya.

Promosi daring
Kegagalan itu membuat Aang mencari jalan untuk mempromosikan masyarakat secara web log (blog) sebagai Situs web itu gampang semua pengguna internet perkenalan ikan setiap lapisan masyarakat. Cara itu terbukti ampuh. Pada awal 2013 ada 5 pengguna blog yang bersedia menjadi agen penjualan.

“Syarat agen membeli 25 bungkus 200 gram seharga Aang. Kemudahan jumlah agen meningkat setahun. Pada akhir
mengelola 80 agen kota-kota besar seperti Depok, Surabaya, Palangkaraya, dan bulan ia sanggup bungkus setara Rp60- juta. Meningkatnya permintaan keruan saja mendongkrak omzet Aang.

Namun, perniagaan itu tidak selalu berlangsung mulus. Keterbatasan ilmu manajemen membuatnya kewalahan mengelola agen. Apalagi ia telah mengemban tugas sebagai karyawan di perusahaan minyak dan gas di Jakarta sejak 2013. Aang membuka diri berkonsultasi dengan pakar bisnis, mempelajari ilmu manajemen, dan pemasaran untuk mengatur lalu lintas perdagangan.

“Bisnis olahan ikan ternyata cukup menyita waktu,” ujarnya. Akhirnya, Aang memutuskan berhenti bekerja pada 2014. Padahal, pihak kantor mengajukan beragam penawaran seperti promosi jabatan dan pemberian fasilitas berupa mobil. Namun, ia bergeming. “Saya bermimpi menjadi wirausaha sejak kecil dan ini saat yang tepat,” ujarnya. Keputusan itu membuat Aang semakin fokus pada usaha olahan petek.

Ia mengerahkan 17 karyawan untuk menunjang produksi. Peraih juara pertama wirausaha tingkat Provinsi Jawa Barat  dari Bank Indonesia itu mengolah 250 kg ikan petek segar setiap hari. Beragam terobosan dilakukan seperti
memperbaiki kemasan, kualitas rasa, dan transportasi. Produk ikan petek krispi semakin digemari lantaran bebas
pengawet. Itu sebabnya hanya mampu bertahan 4 bulan.

Baca juga:  Alokasia Macet Daun

Aang menggunakan mobil boks untuk membantu kelancaran distribusi produk di sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang, dan  Bekasi. Sementara itu, ia mengandalkan jasa pengiriman barang ternama untuk pengiriman ke luar kota dan keluar pulau. Kini volume produksi petek krispi mencapai ribuan bungkus per hari. Penjualan paling fantastis
tercapai pada Maret 2015. Aang sukses menjual 13.500 bungkus setara Rp202-juta. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *