5 Inovasi Dongkrak Laba: Panen Ganda ala Yumina 1
Drs Sutrisno (kiri), dan Eri Setiadi Ssi, MSc (kanan), mengembangkan akuaponik sistem yumina dan bumina

Drs Sutrisno (kiri), dan Eri Setiadi Ssi, MSc (kanan), mengembangkan akuaponik sistem yumina dan bumina

Dari lahan 1 m2 Eri Setiadi memanen 56 kg lele dan 6 kg kailan dalam 2 bulan.

Di Kotamadya Bogor, Jawa Barat, Eri Setiadi memanen 56 kg lele. Sekilogram terdiri atas 8—10 ekor. Itu hasil pembesaran benih berukuran 10—12 cm di akuarium sepanjang 200 cm, lebar 40 cm, dan tinggi 50 cm selama 2 bulan. Sembari menunggu panen ikan, Eri 4 kali menuai kailan dengan interval 12—14 hari. Tempat tumbuh kailan berupa talang masing-masing 2 m yang tersusun dua tingkat. Posisi talang di samping akuarium lele. Setelah menebar benih ikan, ia memang menanam 40 bibit kailan berdaun 3 helai.

“Sekali panen kailan rata-rata 1,5—2 kg,” kata alumnus Fakultas Biologi Universitas Nasional itu. Eri memanen kailan dengan cara memotong batang 5 cm dari permukaan media. “Dengan cara itu kailan akan tumbuh kembali dari pangkal batang yang tersisa. Makanya bisa panen berkali-kali,” ujar Eri. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan, Dr Ir Achmad Poernomo, MApp.Sc, menyebut sistem budidaya itu yumina, penggabungan budidaya sayuran dan mina alias ikan.

Tanaman mendapatkan nutrisi asal kotoran dan sisa metabolisme ikan yang mengandung kadar nitrogen dan fosfor

Tanaman mendapatkan nutrisi asal kotoran dan sisa metabolisme ikan yang mengandung kadar nitrogen dan fosfor

Jika budidaya kombinasi antara ikan dan tanaman buah, seperti stroberi, Achmad Poernomo menyebut bumina, akronim buah dan mina. Sejatinya yumina dan bumina merupakan pengembangan sistem budidaya akuaponik. Teknologi akuaponik bagai sekali mendayung, maka dua tiga pulau terlampaui. Sekali budidaya Eri mendapatkan sayur dan ikan sekaligus.

Tanpa pupuk
Budidaya yumina lebih unggul daripada budidaya konvensional. “Padat tebar lele lebih tinggi daripada peternak umumnya,” kata Eri. Pada volume air sama, 300 l, peternak hanya menebar 300 benih lele ukuran 10—12 cm. Sementara Eri bisa menebar hingga 500 ekor. “SR (survival rate alias tingkat kelulusan hidup, red) juga tinggi, 70—80%, sedangkan peternak umumnya 40%,” ujar master dari jurusan Aquatic Bioscience, Universitas Kochi, Jepang, itu.

Keunggulan yumina: padat tebar ikan bisa lebih tinggi

Keunggulan yumina: padat tebar ikan bisa lebih tinggi

Selain itu, Eri juga bisa memanen kailan lebih banyak daripada petani konvensional, 12—16 kg per m² per 2 bulan. Menurut petani sayuran di Cipanas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Muhammad Saputro, jarak tanam kalian di lahan 50 cm x 60 cm. Panen dengan cara dipotong pangkal batangnya sehingga bisa panen beberapa kali. “Dengan cara itu bisa panen kailan setiap 2—3 pekan sebanyak rata-rata 0,5 kg per m2,” kata petani sayuran sejak 20 tahun silam itu.

Baca juga:  Hidroponik di Serambi

Namun, syaratnya pemberian pupuk kandang rutin usai panen. “Pupuk kandang diberikan 1 kg per meter persegi. Jika tidak dipupuk maka hasil panen berikutnya berkurang,” ujar Saputro. Bandingkan dengan Eri yang tak mengeluarkan biaya pupuk untuk sayurannya. “Pupuk sudah diperoleh dari kotoran ikan. Sayuran yang dihasilkan pun terjamin kesegaran dan kesehatannya karena organik,” ujar Eri.

Pembudidaya yumina cukup memberikan pakan ikan. Sementara tanaman mendapatkan hara dari kotoran dan sisa metabolisme ikan yang mengandung nitrogen dan fosfor. Dalam budidaya yumina dan bumina, ada proses resirkulasi air. Pompa menyedot air dari kolam dan mengalirkan ke tanaman. Akar tanaman akan “menangkap” limbah ikan yang kaya unsur hara dan memanfaatkannya sebagai sumber nutrien untuk pertumbuhan serta pembentukan daun dan buah.

Jenis ikan yang dipilih antara lain lele, patin, mas, dan nila

Jenis ikan yang dipilih antara lain lele, patin, mas, dan nila

Melalui proses resirkulasi itu air kolam terus terpurifikasi sehingga kualitasnya menjadi lebih baik. “Proses itu memungkinkan air yang digunakan tidak perlu diganti selama periode pemeliharaan ikan dan sayuran,” kata Sutrisno, periset di di Instalasi Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Perikanan Budidaya dan Toksikologi, Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Air Tawar, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Cibalagung, Bogor, Jawa Barat.

Menurut Eri pembudidaya yumina perlu menambah air secukupnya secara berkala untuk mengganti air yang hilang akibat proses penguapan. Eri menuturkan budidaya yumina meningkatkan kadar oksigen terlarut 0,5—1 ppm. Selain itu juga dapat menurunkan kadar nitrit dari 4,4 mg menjadi 0,013–0,25 mg per liter. Kandungan nitrit dalam perairan menghambat kemampuan darah ikan mengikat oksigen sehingga bisa terserang methaemoglobin pemicu kematian. Peningkatan oksigen terlarut menyebabkan ikan tumbuh sehat dan tanaman pun subur.

Tanaman semusim berakar serabut dan cepat tumbuh, seperti stroberi, kangkung, selada, dan kailan cocok untuk akuaponik

Tanaman semusim berakar serabut dan cepat tumbuh, seperti stroberi, kangkung, selada, dan kailan cocok untuk akuaponik

Beragam jenis
Teknologi akuaponik memang bukan hal baru. Almarhum Prof Dr Taufik Ahmad MSc beserta tim di Instalasi Penelitian dan Pengembangan Lingkungan Perikanan Budidaya dan Toksikologi sejak 2004 mengembangkan perikanan di daerah perkotaan yang lahannya terbatas. Sejak itu teknologi budidaya ikan dengan tanaman terus dikembangkan oleh tim peneliti—Ir Imam Taufik MSi, Drs Sutrisno, dan Eri Setiadi SSi, MSc.

Baca juga:  Terbaik Versi Abang Sam

Sutrisno menuturkan keunggulan yumina dan bumina dapat dilakukan di lahan terbatas seperti daerah perkotaan dan tidak perlu banyak air. “Air cukup ditambahkan jika volumenya berkurang akibat penguapan,” kata Sutrisno. Selain itu, yumina dan bumina cocok dikembangkan untuk kebutuhan pangan sendiri. Peneliti itu mengatakan hampir semua jenis ikan air tawar dapat dibudidayakan dengan sistem yumina dan bumina. Namun, sebaiknya pembudidaya memilih ikan yang mempunyai pertumbuhan cepat dan bernilai ekonomis tinggi sehingga siklus budidaya tidak terlalu lama dan lebih menguntungkan.

“Jenis ikan yang dipilih antara lain lele, patin, ikan mas, dan nila,” kata Eri. Sementara jenis tanaman yang cocok adalah tanaman semusim yang memiliki akar serabut dan cepat tumbuh. Contohnya kangkung, selada, pakcoy, kailan, genjer, cabai, terung, tomat, dan stroberi. Menurut Sutrisno bentuk dan ukuran kolam bisa didesain sedemikian rupa menyesuaikan luas lahan atau ruang yang tersedia. Syarat utama, kolam tidak boleh bocor agar volume air tetap stabil. Sementara kolam seperti kolam semen, terpal, fiber, dan akuarium menyesuaikan biaya.

Untuk media tanam sekaligus filter bisa menggunakan arang kayu atau arang tempurung kelapa, batu apung, kerikil, akar pakis, dan sabut kelapa. “Idealnya volume media tanam 10—20% dari volume air kolam,” kata Imam Taufik. Dengan beragam keunggulan, wajar jika para peneliti itu gencar memperkenalkan teknologi yumina dan bumina seperti pada Pekan Nasional Petani dan Nelayan di Kepanjen, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, 7—12 Juni 2014. Maklum, teknologi itu dapat diterapkan mulai dari skala rumah tangga—pekarangan rumah—hingga skala komersial. (Rosy Nur Apriyanti)

Mereka Berbagi Nutrisi

Edisi Juni 2014.pdf

  1. Ikan diberi pakan dan menghasilkan kotoran mengandung amonia
  2. Bakteri yang ada di kolam dan media tanam akan mengubah amonia menjadi nitrit dan nitrat
  3. Tanaman menyerap nitrat sebagai nutrisi untuk pertumbuhan. Akar tanaman juga berperan sebagai filter air bagi tanaman
  4. Air mengalir melalui proses resirkulasi. Pompa mengalirkan air kaya unsur nitrogen dan fosfor dari kolam ke media tanam. Media tanam dan akar tanaman memfilter air sehingga bersih dan kaya oksigen terlarut. Selanjutnya, air kembali lagi ke kolam.
  5. Oksigen masuk ke dalam sistem yumina dan bumina melalui aliran pompa air dan hasil produksi akar tanaman. Oksigen penting untuk pertumbuhan tanaman dan kelangsungan hidup ikan. (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *